Bang Ican
Sudah waktunya Bang Ican pulang. Sudah jam sepuluh malam, tapi dia belum juga menampakkan batang hidungnya. Percuma saja kusiapkan sayur asem dan tempe goreng kesukannya, Bang Ican tidak pernah memakannya dalam keadaan ‘fresh from the oven’.
Bang Ican belakangan ini selalu pulang malam. Yang ada pengajianlah, bantu-bantu temannya pindahanlah, menghadiri temu mualaflah. Aku sudah benar-benar bosan dengan kegiatan-kegiatan Bang Ican.
Aku paham dengan kebutuhan teman-teman Bang Ican akan kehadiran dirinya yang salafiy*, tapi ini sudah keterlaluan karena Bang Ican meninggalkan istrinya sendirian di rumah yang baru saja kami tempati kemarin, dalam keadaan hamil muda pula.
‘Duh Bang, dimana, sih kamu? Sudah susah payah aku masak dan menahan mualku ini, tapi lagi-lagi kamu gak makan.’
Teng. Teng. Teng. Suara tiang listrik dipukul oleh para peronda. Jarum jam kecil di meja nakas* tempat tidur kami menunjukkan angka tiga. Rupanya aku tertidur ketika menunggu Bang Ican pulang. Sudah jam tiga pagi tapi Bang Ican belum juga pulang.
Kini aku benar-benar bingung. Bang Ican tidak biasanya seperti ini. Aku coba cek henponku siapa tahu Bang Ican menelepon. Tapi tidak ada telpon masuk dalam henponku. Sengaja aku letakkan henpon dekat dengan kupingku agar jika Bang Ican telepon atau sms, aku akan langsung mendengarnya. Ini juga karena di rumah yang baru ini belum ada sambungan telepon. Tapi bahkan Bang Ican pun tidak mengirim sms.
‘Bang, Nisa takut, Bang. Kamu dimana, sih?’ Suara-suara malam benar-benar membuat bulu kudukku merinding. Aku memang baru belajar hidup mandiri setelah empat bulan menikah. Tapi aku tidak menyangka aku akan setakut ini sendirian dirumah.
Ada saja pikiran jelek melintas di kepalaku. Aku masih bisa mengingat ketika Mbak Retno, kakak tertuaku, ditinggal pergi tugas oleh Mas Arvi di rumah dan ternyata ada rampok masuk ke dalam rumahnya. Mbak Retno sih tidak terlalu panikan seperti aku, dan juga dia pintar membela dirinya dengan pengalaman seumur hidupnya akrab dengan Aikido*. Ditambah lagi ada Mas Genta, adik kandung suaminya. Sedangkan aku? Ada kecoa terbang saja aku lari dan berteriak-teriak seperti ada pemerkosa mengejarku.
‘Pemerkosa! Bang, gimana kalo aku diperkosa waktu kamu ga ada? Bang, pulang dong, Nisa bener-bener takut nih.’ Dan pikiranku terus saja melayang-layang pada adegan laki-laki yang mengejar-ngejarku karena ingin memperkosaku seperti yang aku sering lihat di tv.
Brakk! Meong. Aku kaget setengah mati oleh suara keras di depan rumahku dan suara kucing mengeong yang menjadi sangat mengerikan di telingaku. Aku tidak berani keluar. Bahkan aku tidak berani bergerak dari posisi tidurku ini. Aku semakin menarik selimut untuk menutupi tubuhku. Mataku tidak berani kupejamkan, takut akan ada makhluk halus atau makhluk kasar berhati makhluk halus yang ingin berbuat jahat pada diriku. Aku masih saja tidak bisa menyingkirkan pikiran-pikiran masa kecilku tentang makhluk-makhluk yang bersembunyi di bawah tempat tidur dan di dalam lemari, juga tentang psikopat yang ingin memperkosa atau membunuh demi kesenangan.
Bayang-bayang kelam di dinding kamar tidur kami seolah-olah mengejekku. Suara-suara malam terus saja menggodaku. Tik. Tak. Tik. Tak. Bahkan suara jarum jam berdetakpun seperti ingin menghantuiku.
Kucoba lagi mendial henpon Bang Ican. Tapi si Veronica yang menjawab. Aku menjadi kesal pada Veronica yang selalu setia menjawab henpon-henpon yang kehabisan baterai, atau kelamaan tidak diangkat pemiliknya, atau henpon yang diluar jangkauan jaringan provider.
‘Bang…tolong Nisa, Bang. Nisa gak mau sendirian lagi di rumah. Nisa janji deh Nisa gak akan belagu gak pake khadimat*. Besok Nisa nurut deh sama Bang Ican buat cari khadimat biar Nisa gak sendirian kayak gini. Bang pulang dong, ato enggak nyalain kek henponnya, ato pinjem henpon temen Bang Ican.’
Aku tahu henpon Bang Ican kehabisan baterai. Tadi pagi ketika Bang Ican pergi, baterai di henponnya tinggal setengah. Dan tentu saja dalam hitungan jam baterai henpon Bang Ican akan habis karena tiap satu jam aku selalu meneleponnya.
Tiap jam? Kini aku sadar aku terlalu manja. Tapi aku benar-benar tidak mengerti harus bagaimana dengan rumah baru ini. Yah aku memang berkeras tidak menggunakan khadimat, itu agar aku tidak lagi manja seperti ketika masih di rumah Ibu. Dan bukan salah aku juga kalau aku ingin mengatur rumah mungilku ini sendirian. Biar ada kesan ‘The Touch of Nisa’ di rumah kami.
Teng. Teng. Teng. Teng. Lagi-lagi aku kaget karena suara mengerikan tiang listrik dipukul oleh para peronda. Di daerah rumah baru kami ini ada kebiasaan memukul tiang listrik setiap jam, dimulai jam duabelas malam dan berhenti jam lima pagi. Dan jumlah pukulannya itu sesuai dengan jam berapa saat itu. Bayangkan ketika tepat jam duabelas malam tiang listrik itu dipukul.
Sudah jam empat pagi. Dan Bang Ican belum juga mengetok pintu, mengucapkan salam dari suaranya yang berat. Lalu dia akan mencium keningku dan bermanja-manja minta dipijat karena kelelahan. Terkadang Bang Ican tidak meminta apa-apa selain bersandar di pahaku dan tertidur pulas. Aku sangat mencintai Bang Ican yang tidak akan marah jika aku belum masak karena aku belum terampil memasak dengan cepat dan sempurna, malahan dia akan tersenyum ramah dan mengajakku makan mie ayam wiling di depan komplek rumah orang tuaku.
Pikiran indah tentang Bang Ican sejenak membuatku melupakan ketakutanku. Tapi bayang-bayang kelam dan suara-suara malam tetap menghantuiku. Aku masih tidak berani bergerak. Bahkan aku rela menahan rasa ingin buang air kecil dan mual. Aku benar-benar kaku dibalik selimutku. Ruangan kamar kami dilengkapi pendingin tetapi tubuhku panas dan berkeringat. Perempuan hamil memang suhu tubuhnya lebih panas dari biasanya, tetapi panas yang kurasakan bukan karena janin dalam rahimku, tapi karena kegiatan jantungku yang berdetak lebih cepat karena takut.
Teng. Teng. Teng. Teng. Teng. Sudah pukul lima. Azan Subuh sudah berkumandang sejak setengah jam yang lalu. Bang Ican tetap belum pulang. Dan aku tetap tidak berani untuk beranjak dari posisi tidurku.
‘Aku harus Sholat Subuh. Harus. Tapi aku takut. Bang, gimana dong? Biasanya kan kamu yang nemenin Nisa Wudhu.’
5.30. Jam kecil di meja nakas terus bergerak. Aku terus merasa bersalah karena belum Sholat Subuh. Akhirnya aku beranikan beranjak dari tempat tidurku dan ke kamar mandi untuk berwudhu. Aku tahu ini sangat terlambat untuk Sholat Subuh. Tapi aku membutuhkan Sholat untuk menenangkanku karena mengkhawatirkan Bang Ican.
Sudah jam enam pagi. Waktunya aku benar-benar mencari Bang Ican. Toh Masjid Al-Iman tempat Bang Ican semalam pergi tidak terlalu jauh dari rumah. Kukenakan jilbab sekenaku, menyambar dompet, henpon dan kunci mobil, aku tidak perduli larangan mengemudi mobil sendiri bagi perempuan hamil, seberapa jauhpun akan kubawa mobil demi Bang Ican. Kubuka pintu rumah dengan tergesa-gesa. Dan aku terkejut dengan pemandangan di depan pintu rumahku.
“Bang Ican, Astaghfirullah, Bang ko tidur disini?” kubimbing Bang Ican masuk kerumah. Dia masih terlihat belum benar-benar sadar dari bangun tidurnya.
“Bang kok tidur disitu sih? Nisa kan semaleman nungguin, Abang, kenapa Abang gak ngetok pintu ato telepon Nisa gitu. Abang pulang jam berapa? Kenapa gak nelepon Nisa ato sms?” Bang Ican kuberondong dengan banyak pertanyaan. Gemas aku karena yang ditanya hanya tersenyum.
“Abang pulang jam satu, Nisa. Abang ngetok kok, tapi mungkin Nisa gak denger Abang. Trus henpon Abang kan lowbat, mana bisa nelepon, wong dinyalain aja gak bisa. Ya emang Abang salah sih gak ngetok lagi, tapi Abang kasian sama Nisa, jadi aja Abang tidur di teras deh. Kan Abang ngikutin Nabi Muhammad yang gak keberatan tidur diluar gara-gara Aisyah gak denger Rasulullah ngetok pintu. Itu kan tipe suami idaman Nisa?”
Penjelasan lembut dan panjang lebar dari Bang Ican membuatku malu. Aku sadar pipi tembamku memerah. Dan aku menjadi malu karena tidak mendengar suara mendengkur Bang Ican karena terlalu takut semalaman, padahal suara mendengkur Bang Ican sangat keras yang seharusnya aku bisa mendengarnya jika aku tidak terlalu paranoid dengan semua bayangan kelam dan suara malam.
Bang Ican juga begitu baik karena berusaha menjadi suami idaman seperti yang aku gambarkan dulu sebelum kami menikah. Tentang pribadi Nabi Muhammad S.A.W yang diidamkan semua perempuan untuk menjadi suaminya. Padahal aku tahu, sebenarnya Bang Ican pasti akan menggerutu jika harus tidur di teras yang keras dan dingin.
Tidak terasa air mata mengalir deras dari kedua mataku. Aku begitu bersalah pada Bang Ican dan aku begitu bersyukur karena memiliki suami seperti dia.
“Maafin Nisa ya, Bang”
“Gak papa Nisa.” Senyum itu terus saja terukir di bibirnya. Tapi tiba-tiba senyum itu pudar dan berganti dengan cemberut.
“Ya udah, sekarang bikinin Abang air panas dong, Abang mo mandi nih. Lagian kamu ngapain aja sih semaleman sampe gak denger Abang ngorok padahal kamu biasanya suka ngambek kalo abang ngorok.”
Kali ini aku tidak tersinggung dengan marahnya Bang Ican. Aku segera menyiapkan air mandi Bang Ican. Membuatkan teh manis panas kesukaan Bang Ican lengkap dengan biskuit coklat sebagai teman minum tehnya. Dan tidak lupa kucium bibir Bang Ican.
“Dasar nakal.” Senyuman Bang Ican kembali terukir karena ciumanku.
end
***
Salafiy: Orang yang berusaha menjalankan agama dengan metode atau cara berislamnya as-salafush-shalih, yang terdiri dari para sahabat –radhiyallahu’anhum-, dan generasi setelahnya, dan generasi setelahnya yang dipuji Rasulullah –shallallahu’alayhi wa sallam- sebagai generasi terbaik Islam
Nakas: Meja kecil disamping tempat tidur; biasanya diletakkan lampu baca, telepon atau hiasan meja.
Aikido: Seni bela diri dari Jepang yang mencari titik kelemahan dari lawan sehingga membuat lawan labil tanpa harus menyakiti secara fisik.
Khadimat: Asisten rumah tangga
Nyanyian Rindu 2
Jangan menangis, Papa. Jangan bersedih. Kujulurkan tanganku mengusap air mata di wajah lelah itu. Wajah yang sangat aku cintai. Wajah yang selalu menemaniku sepanjang hidupku. Hanya wajah itu yang kupunyai, karena wajah Mama hanya bisa kulihat melalui foto.
Kini wajah itu suram. Wajah itu kelabu menambah guratan2 usia. Aku sayang Papa. Tolong jangan menangis. Aku berjanji aku akan berusaha lebih keras untuk bicara, Pa. Hanya saja nyanyian itu kini semakin keras terdengar ditelingaku. Aku tidak ingin kehilangan nyanyian itu. Belum saatnya, Papa. Aku akan mencari tahu darimana asal nyanyian itu.
Sudah bulan ketiga aku bungkam. Aku juga tidak mengharapkannya. Tapi jika aku berusaha untuk bicara, nyanyian itu kembali menjadi samar dan ruangan itu serta cahaya terangnya akan hilang. Aku hanya ingin mengakhiri rasa penasaran ini saja.
***
Prang. Suara pecahan kaca. Seseorang membanting gelas atau sesuatu yang terbuat dari kaca. Aku berusaha menjangkau pintu dalam keterbatasanku menggerakkan kakiku yang menjadi kaku sejak jatuhnya aku dari pyramid. Lalu kudengar suara orang2 bertengkar. Siapakah mereka?
Aduh! Kakiku sakit sekali. aku harus menjatuhkan diriku sendiri untuk turun dari tempat tidurku, dan inilah akibatnya. Aku benar2 mengutuk kejatuhanku dari pyramid. Aku, Riana, yang selalu lincah meloncat kesana kemari, tapi kini tidak berdaya oleh kakunya kaki ini dan kelunya lidah ini. Bahkan akupun harus merelakan tangan kananku menjadi lumpuh.
Auch! Kepalaku, sakit sekali. Dan, nyanyian itu, begitu memekakkan telinga, tidak lembut seperti biasanya. Nyanyian itu begitu nyata.
Peluh memenuhi tubuhku. Aku menggeser tubuhku seperti suster ngesot untuk menuju tangga. Dan aku melihatnya. Aku melihat siapa yang memainkan nyanyian itu. Papa. Laki2 yang sangat kucintai itu memainkan piano dengan penuh kemarahan dan putus asa. Bagaimana Papa tahu akan nyanyian itu?
***
Aku begitu lelah karena berusaha menjangkau tangga. Papa sudah menggendongku kembali menuju kamarku. Ingin sekali aku bertanya bagaimana Papa tahu tentang nyanyian itu, tapi tenggorokanku kembali kering, lidahku kembali kelu. Sampai Papa menarik selimutku sampai ke daguku, aku tidak bisa mengatakan apa2.
Aku bisa merasakan kembali keberadaanku dalam ruangan berasap itu. “Riana…datanglah sayang” suara lembut itu mengayunku dalam alam mimpiku. Aku bisa melihat lagi cahaya terang itu. Dan akupun ikut mendendangkan nyanyian itu.
Tapi tiba2 mataku sanggup menembus pekatnya asap dalam ruangan itu. mampu menepis cahaya terang didepanku. Aku melihatnya. Melihat wanita yang sangat kurindukan sedang memainkan piano. Wanita yang sangat cantik dengan gaun putih dan corak bunga2 berwarna merah darah di sekelilingnya. Dia tersenyum melihatku.
“Riana sayang” Bibir itu menyapaku lembut. Lengan putihnya berusaha menjangkauku. Tapi kemudian wajahnya kecewa karena tidak bisa menjangkauku. Aku berusaha Mama. Aku berusaha. Pegang tangan aku, Ma, peluk aku Mama, aku kangen Mama.
Aaaaarrrggghhhhh. Tidak. Tidak. Tiba2 bunga2 berwarna merah darah itu seperti mengeluarkan darah sungguhan. Ekspresi Mama sangat kesakitan. Memohon pertolongan pada laki2 disampingnya yang memgang pisau berlumuran darah. Dan tubuh Mama sudah ambruk ke tanah dengan darah.
Laki2 itu menangis. Aku hanya diam tidak bisa berbuat apa2. Aku berusaha tidak melihat siapa laki2 yang menangisi tubuh Mama. Aku ketakutan. Aku kecewa, kecewa yang teramat dalam.
***
Kini aku ingat kenapa nyanyian itu begitu menggangguku. Aku terbangun dengan sakit yang menyiksa di kepalaku. Papa dan Bi Yun kulihat tergopoh-gopoh menanyai keadaanku. Aku baru sadar kalau aku berteriak. Aku baru sadar dari mimpiku. Mimpi menemukan asal nyanyian itu.
Aku benci pada Papa. Aku memandang Papa tajam dan aku tahu kalau pandangan itu memancarkan kemarahan. Tapi aku juga begitu mencintai Papa. Kenapa Pa? kenapa Papa melakukan ini padaku dan Mama?
Aku kini ingat akan nyanyian itu, nyanyian terakhir yang dinyanyikan Mama sebelum Papa menghunuskan pisaunya pada Mama. Sebelum Papa terbakar api cemburu ketika melihat Mama memainkan piano bersama laki2 tidak kukenal yang menggendongku.
Drama Tiga Hati
Aya
Aku mencintainya. Aku menginginkannya. Tapi apakah dia menginginkanku? Tidak, tentu saja tidak.
Aku hanyalah seorang Soraya. Gadis biasa yang jatuh cinta. Sedangkan dia adalah Silwan, pria yang ketampanannya mampu menyilaukan setiap mata yang memandangnya.
Silwan
Aya mencintaiku. Aku tahu. Aku merasakannya. Tapi apa dayaku. Aku tidak bisa menyatukan rasaku dengan rasanya. Hanya untuk satu orang rasaku bersatu.
Pernikahan kami akan segera dilangsungkan. Aku dan Aya. Aku yang memilih Aya untuk menjadi istriku. Tradisi Arab mengharuskan aku menikahi seorang wanita Arab juga. Hanya Aya yang mengerti keadaanku. Hanya Aya yang menerima kekuranganku.
Lukman
Kabar gembira dari Pak Dito untuk mempromosikanku sebagai pilot tidak bisa menyenangkanku karena hari ini adalah hari pernikahannya. Aku bahkan menghancurkan ipodku karena dia memutar “Friday I’m in love”. Hari ini Jumat, tapi aku tidak sedang jatuh cinta, aku justru sedang patah hati karena setelah janji yang diucapkan dalam akad nikah itu siang ini, akan menjadikan dia milik orang lain.
Aya
Seharusnya aku bahagia karena aku bisa menjadi istrinya. Tapi hatiku tetap perih mengetahui bahwa alasan dia memilihku hanya karena keturunanku yang Arab murni. Hanya karena pikirnya aku menerima keadaannya. Hanya karena pikirnya aku adalah gadis berhati besar dan mulia. Dan bodohnya aku, memang itulah kebenarannya.
Aku tidak ingin menjadi malaikat penolongnya, tapi aku tidak bisa menolak kehormatan untuk menjadi istrinya. Dan aku terlalu mencintainya, bahkan untuk mengorbankan seluruh hidupku untuk menjadi istrinya tanpa memiliki hatinya.
Dalam pesta pernikahan kami, semua mata wanita memandang iri kepadaku. Iri pada gaun hijau lembut hadiah darinya. Iri pada jilbab penuh kerlip menutup sempurna rambutku. Iri pada keberadaanku bersanding dengannya. Tapi tidak ada yang tahu, justru aku iri terhadap semua tamuku. Iri karena hanya menjadi penonton, menjadi penikmat, dalam drama hidupku yang menyakitkan.
Aku hanya berharap Lukman datang untuk menolongku. Menyadarkanku bahwa menjadi istri Silwan hanya akan lebih menyakitkan hatiku. Hanya akan membuatku sengsara, karena Silwan tidak akan pernah mencintaiku. Tapi Lukman tidak datang kemarin. Lukman mengabaikan permintaanku untuk mencegahku. Aku terlalu berharap Lukman yang juga patah hati akan pernikahanku dengan Silwan akan mampu mengerahkan semua keberaniannya untuk menghentikanku dan Silwan mengikat hidup kami.
Lukman
Dengan berat hati akhirnya aku datang. Dengan sakit yang menyayat hati akupun menyaksikannya bersanding di pelaminan.
Dia begitu indah. Warna hijau membuat kulit putihnya sangat bersinar. Kerlip indah di baju pengantinnya membuat mata jernihnya lebih kemilau.
Entah hanya karena perasaan tertekanku saja, tapi aku merasa semua orang tertawa akan kekalahanku. Semua orang seolah mengejek kebodohanku. Ketika aku bersedih, seolah seluruh dunia juga bersedih. Padahal semua orang disana tidak ada yang mengetahui siapa aku, apa hubunganku dengan mempelai.
Aku tidak sanggup lagi. Aku hanya cukup menjabat tangannya dan mengucapkan selamat. Semua sudah terlambat. Aku seharusnya datang kemarin disaat mereka belum melangsungkan akad nikah mereka.
Silwan
Aku tahu Aya menginginkan Lukman untuk menolongnya. Aku tahu walaupun Aya mencintaiku, tapi dia nyaris tidak bisa berdiri mengorbankan dirinya untuk diriku. Aku tahu kemarin lusa Aya putus asa menelepon Lukman untuk datang dan mengakui isi hati Lukman kepada seluruh keluarga kami. Aku tahu. Tapi lagi-lagi aku tak berdaya.
Aku tidak seberani Aya yang berusaha sekuat tenaganya untuk membahagiakanku. Untuk membuatku mengejar cintaku.
Aku tidak mencintai Aya. Aku hanya mencintai dia. Walaupun aku menyayangi Aya, menghormati pengorbanan Aya, tapi sesuatu dalam diriku tidak bisa dibohongi.
Aku hanya bisa menatap Lukman dalam ketidakberdayaanku karena akupun berharap hal sama seperti Aya. Aku berharap Lukman akan menolongku. Aku berharap Lukman bisa bersikap jantan dengan mengakui isi hatinya. Tapi Lukman hanya diam. Aku bisa merasakan kalau hatinya terlalu sakit bahkan untuk bicara. Karenanya dia diam.
Akhirnya aku hanya mencoba terlihat bahagia. Aku harus kuat. Aku tidak boleh menunjukkan kelemahanku. Aku harus berjuang untuk Aya. Wanita yang telah mengorbankan dirinya untuk aku. Wanita yang bahkan meminta orang yang aku cintai untuk menolongnya sekaligus membahagiakanku. Wanita yang memiliki hati mulia untuk laki-laki yang mencintai orang lain.
Anak Perempuanku
Hoeeekkkk. Hoeeekkkk. Perut ini tidak bisa lagi menahan mual yang amat sangat. Belum lagi kubasuh mulutku, pusing dikepalaku menusuk-nusuk memerintahkanku kembali tertunduk. Muntah.
Hamil. Iya. Aku hamil lagi. Kali ini hatiku semakin cemas memikirkan kehamilanku yang ketujuh. Dimataku terbayang kelima anakku, dan masih bisa terlihat jelas seonggok darah anak keempatku yang belum sempat kurawat karena meninggalnya bapak membuatku yang sedang hamil muda tak sanggup menahan rasa lelah.
Takut. Aku takut untuk meneruskan kehamilanku. Aku takut pergi ke dokter untuk memeriksa kehamilanku ini. Bukan karena aku tidak menyayangi anak ini. Bukan. Justru aku sangat menyayangi anak ini hingga aku tidak berniat meneruskan kehamilanku.
Kuakui aku seorang Bunda yang lemah. Kelima anakku semuanya cantik dan sehat, tapi tidak secara batin. Aku bisa merasakan mereka lelah. Aku bisa merasakan mereka cemburu dengan teman-teman mereka yang punya keluarga harmonis.
Masih bisa kuingat jelas perkataan Fani, Fatharani Putri, anak ketigaku. „Bunda, kenapa sih gak cerai aja ma Ayah?” sinis perkataannya ditengah pecahan-pecahan piring yang terlempar olehku dan ayahnya. Padahal saat itu umurnya belum genap 6 tahun.
Kini Fani sudah sepuluh tahun dan aku masih saja berlempar-lemparan berbagai benda dengan ayahnya.
***
Kandunganku sudah berumur delapan bulan. Sudah berat sekali kaki ini melangkah. Dan aku masih belum merasa gembira akan kelahiran anakku.
Tertekan sekali batinku melihat Mas Rafli yang berharap kalau anak yang akan lahir kali ini adalah laki-laki. Dan berat sekali rasanya karena perasaanku pun kali ini sama dengan Mas Rafli.
Aku merasa bersalah karena punya perasaan buruk sekali karena tidak menginginkan anak perempuan lagi. Tapi aku tidak bisa memungkiri jika dalam tiap sujudku, doa yang kupanjatkan agar anak yang lahir ini anak laki-laki.
Betapa tega hatiku sebagai bunda tidak mendoakan kesehatan anak dalam kandunganku. Betapa kejam pikiranku ketika dulu dia berkata padaku untuk mengugurkan kandungan ini.
Maafkan Bunda sayang, maafkan Ayah dan Bunda karena tidak menginginkanmu menjadi perempuan.
Kuusap perut besarku sambil menahan sesak ini. Berkecamuk pertanyaan dalam kepalaku. kenapa anak perempuan masih saja tidak berharga di mata Mas Rafli? Mengapa dia begitu buta akan keinginannya akan anak laki-laki hingga tega-teganya dia mengawini Lasmi secara siri hanya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan? Dan mengapa dia begitu kejam meninggalkan Lasmi sendiri ketika ternyata anak yang dilahirkannya tetap tidak punya penis?
Kini anak-anakku pun sudah tidak bersemangat untuk menanti kelahiran adik bayi mereka. Hanya Maura, si kecil yang masih melotot takjub melihat perut besarku dan merasakan gerakan halus adiknya.
Kayla sudah beranjak remaja. Sudah 14 tahun umurnya. Dan sudah bosan melihat ekspresi dan tingkah laku ayahnya yang kecewa karena adiknya dan dirinya adalah perempuan. Kayla tumbuh menjadi gadis dengan pribadi yang sangat tertutup. Dia jarang tersenyum, tapi juga jarang marah. Bahkan dia seperti tidak punya ekspresi apapun di wajahnya. Hatinya terlalu terluka. Tubuhnya pun kini terluka permanen karena sabitan ikat pinggang ayahnya di wajahnya.
Kanya pun seolah mengikuti jejak kakaknya untuk tidak perduli. Hanya terpaut dua tahun dari Kayla, tapi tingkahnya sudah sembrono dengan jarang pulang kerumah walaupun waktu pulang sekolah sudah lewat beberapa jam. Aku mengerti dengan keengganan Kanya pulang kerumah yang sudah seperti neraka baginya. Sundutan rokok ayahnya telah sering dia terima karena kenakalannya hingga para guru di sekolahnya memanggil orang tuanya, atau para guru menskornya.
Apalagi dengan Fani yang memang paling kritis dibandingkan saudara-saudaranya yang lain. Masih saja dia menginginkan perceraian ayah bundanya jika pertengkaran demi pertengkaran diantara kami tidak berhenti. Tapi Fani adalah anak paling manis diantara anak-anakku. Dialah yang selalu membawa adik-adiknya, Vanisa dan Maura untuk pergi menjauh jika kami sudah mulai bertengkar. Dia juga yang akan mengambil paksa mp4 milik kakak-kakaknya untuk dipasangkan pada telinga kedua adiknya dengan musik sekeras mungkin hingga mereka tidak mendengar apapun dari pertengkaran kami. Fani sangat pintar hingga dia bisa menghindari ayahnya memuntahkan kemarahan ditubuhnya. Fani selalu aman dari jangkauan ayahnya karena dia nyaris tidak pernah berbicara ataupun bertatap muka dengan ayahnya.
Akupun merasakan lelah yang sama seperti kelima anakku. Aku heran dengan Mas Rafli yang menyalahkanku karena tidak mempunyai anak laki-laki. Aku toh lebih berharga dibandingkan perempuan lain yang disalahkan karena tidak mampu memberi anak.
Aku ingin sekali berontak ketika tubuh ini penuh dengan tapak tangan Mas Rafli, atau ikat pinggang Mas Rafli, atau benda-benda yang sanggup dijangkau oleh Mas Rafli.
Seolah Mas Rafli tidak puas menyiksaku, malamnya dia akan memperkosaku dan terus-terusan mengancamku untuk memberinya anak laki-laki.
Mungkinkah Lasmi juga diperlakukan seperti ini ketika selama satu tahun membina rumah tangga siri dengan Mas Rafli?
Aku ingin lari dari Mas Rafli. Tapi aku takut dengan nasibku kelak. Aku hanya perempuan tamatan SMP yang tidak pernah bekerja karena keburu dinikahi oleh Mas Rafli. Apalagi dengan kelima anakku yang masih butuh dukungan kedua orang tuanya.
Aku tidak berdaya.
***
Kulihat bayi mungil disampingku. Dia bayi yang paling cantik yang pernah kulihat. Kulitnya putih bersih. Rambutnya hitam bergelombang dan tebal. Bibirnya merah seperti buah delima. Matanya besar seperti dalam animasi Jepang. Tapi sayangnya dia perempuan. Dia tidak akan mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Bahkan suara azanpun tidak dilantunkan ditelinganya.
Kasihan kamu nak. Kasihan karena dilahirkan menjadi perempuan. Kasihan sekali karena kelak kamu akan mendapatkan perlakuan tidak baik dari ayahmu yang tidak menginginkanmu menjadi perempuan.
Aku tidak ingin dia merasakan apa yang dirasakan kakak-kakaknya. Aku tidak ingin dia menderita. Bagaimana caranya? Bagaimana caraku untuk melindunginya?
Ah. Aku tahu. Aku tahu bagaimana caranya aku bisa melindungi anakku. Anakku tidak boleh merasakan pahitnya dunia. Anakku tidak boleh merasakan tapak tangan dari ayahnya seperti aku dan kakak-kakaknya atau bahkan merasakan ditinggalkan seperti Lasmi, ibu tirinya dan Nina, anak ayahnya dari Lasmi. Jadi anakku harus kembali ke tubuhku. Dia harus kembali dalam perlindungan tubuhku. Cukup aku saja yang merasakan pedih dan perihnya siksaan karena aku perempuan yang hanya bisa menghasilkan anak perempuan.
Aku memasukkan kembali anakku yang belum bernama kedalam tubuhku. Aku merasakan manisnya dagingnya dalam mulutku dan manisnya perlindunganku terhadap tubuhnya. Aku merasakan tenteram karena sudah menyelamatkan anakku. Dan kini aku lelah karena semua tenagaku untuk melindunginya sudah habis. Aku hanya ingin tidur. Tidur dan besok ketika aku terbangun, anakku sudah kembali aman dalam tubuhku. Aku sayang kamu anak perempuanku.
Diatas Jembatan Melengkung
Jembatan melengkung itu masih terlihat indah walaupun usianya sudah melebihi usia Kakek. Aku dulu sering bermain disana. Bersama Edo dan Bernard. Aku dulu suka merenung disana. Bersama Edo dan Bernard. Aku dulu suka berpiknik disana. Bersama Edo dan Bernard.
Disana kami bertiga sering menghabiskan waktu hingga hampir Magrib dan ibu-ibu kami menyuruh kami pulang. Jembatan itu melengkung, menghubungi desa kami dengan desa sebelah kami yang terpisah oleh sungai yang airnya jernih. Di ujung jembatan ada sebuah rumah reyot milik Aki Jana dan kucing-kucingnya. Aki Jana hidup sendirian. Tidak ada yang tahu pasti berapa umurnya. Tapi biasanya anak-anak kecil seumuran kami akan takut padanya yang berpenampilan nyentrik seperti dukun teluh. Suka memakai pakaian hitam dengan kalung dari tulang-belulang. Kata orang-orang di desa, Aki Jana suka berburu apa saja dan mengabadikan tulang-belulang hasil buruannya dan dijadikan aksesoris.
Tapi kami tidak takut. Kami mencintai jembatan melengkung itu hingga kami bisa mengacuhkan keberadaan Aki Jana dan kucing-kucingnya. Dan kenyataannya Aki Jana tidak pernah mengusir kami atau mengganggu kami, dia membiarkan kami walau seribut apapun kami bermain.
Kami sangat menyukai pemandangan senja di jembatan melengkung itu. Aliran sungai yang tidak deras, makhluk-makhluk sungai yang misterius, suara jangkrik yang akan muncul menjelang malam, perahu-perahu reyot yang ditalikan di pinggir sungai. Pepohonan rindang yang memberikan kesejukan, bunga-bunga liar berbagai warna, semburat oranye yang menghantarkan senja, bahkan suara mengeong kucing-kucing Aki Jana juga pemandangan mengerikan rumahnya yang di dominasi oleh warna hitam dengan aksesori-aksesoris rumahnya yang bergantungan yang terbuat dari tulang-belulang.
Edo dan Bernard dulu sering meloncat dari jembatan untuk berenang. Mengejar ikan-ikan kecil, menangkapnya dan kemudian melepaskannya kembali ketika ikan-ikan itu mulai megap-megap kehabisan napas. Dan aku hanya akan menunggu mereka dengan bekal makan siang dalam keranjang bambuku, pisang goreng buatan Ibu dan teh manis panas dalam termos.
Aku suka memetik bunga-bunga liar dipinggiran sungai, merangkainya menjadi kalung atau tiara. Aku suka berkhayal bahwa aku seorang putri raja yang memakai tiara, atau seorang peri kecil dengan kalung bunga yang indah. Aku tidak pernah bosan merangkai bunga-bunga itu sambil sesekali bercanda dengan Edo dan Bernard yang sangat suka berenang.
Bernard selalu menjahili ku dengan menarik-narik rambut keriting sebahuku. Kata Bernard, rambutku lucu seperti boneka Belanda. Bernard juga suka mengagetkanku agar dia bisa melihat mata bulatku makin membola. Dia sering menyembunyikan sandal merah mudaku tapi akan mengembalikannya lagi karena aku ternyata tidak mencarinya. Aku tahu dia akan menyembunyikannya dan aku tidak terlalu suka dengan sandal merah mudaku karena aku suka bertelanjang kaki menikmati lantai jembatan melengkung dan menikmati tanah di pinggiran sungai. Tapi Bernard akan mengulangi hal yang sama setiap hari, menyembunyikan sandal merah mudaku dan mengembalikannya dengan tampang malu-malu.
Edo anak yang dewasa untuk seumurannya. Edo jarang menjahiliku kecuali jika aku sudah mulai cemberut oleh kelakuan Bernard. Edo akan mendukung Bernard agar dia bisa melihat lebih lama lagi pipi tembamku. Dia akan tertawa paling keras jika Bernard menjahiliku tapi akan menjadi yang paling lembut jika sudah ada air mata di kedua pelupuk mataku. Edo memang suka pada pipi tembamku, tapi dia akan membujukku untuk mengeluarkan bolong di pipiku alias dia menyuruhku tersenyum agar kedua lesung pipiku terlihat. Edo juga seorang anak yang pemberani. Dia akan maju paling pertama jika ada anak yang menjahili aku atau Bernard. Sering sekali mereka berdua pulang dengan badan lecet dan berdarah-darah sehabis berantem.
Aku merindukan Edo dan Bernard. Aku merindukan pertemanan mereka. Aku merindukan canda tawa mereka. Aku merindukan teriakanku yang mendukung mereka lomba lari, atau lomba berenang, atau lomba menangkap ikan-ikan kecil. Aku merindukan mereka yang dengan takut-takut meletakkan pisang goreng buatan Ibu di depan pintu Aki Jana. Aku merindukan mereka yang suka menjahili kucing-kucing Aki Jana tapi sering memberikan ikan-ikan yang mereka tangkap pada kucing-kucing itu.
Tapi kini tidak ada Edo dan Bernard. Tidak ada permainan. Tidak ada perenungan. Tidak ada piknik dengan pisang goreng dan teh manis panas dalam termos.
Aaaaaaaaaaaaaa. Aku berteriak sendiri. Tanpa Edo dan Bernard. Aku menangis semdiri tanpa Edo dan Bernard. Aku bermain sendiri tanpa Edo dan Bernard.
Terkadang aku bertanya, kenapa dewasa datang menjemput? Kenapa perasaan cinta bisa memisahkan tiga orang sahabat? Kenapa? “Why can’t we be, like story book children?” Lagu itu selalu mengalun di kepalaku. Terkadang pelan dan syahdu, terkadang kencang dan menghentak.
Cinta. Sebuah kata agung yang sangat tidak ingin aku dengar sekarang ini. Tidak sejak kata itu menghancurkan persahabatan kami.
Aku cinta kamu, Edo. Aku sangat mencintai kamu. Aku tidak tahu bahwa ternyata perasaan hatiku justru mengantarkanku pada dendam Bernard yang membunuhmu. Aku bahkan masih belum tahu ketika aku rela menggantikan posisi Bernard di samping tubuh berdarahmu, Edo.
Aku sayang kamu, Bernard. Kamu akan selalu menjadi ‘My Polar Bear’. Aku tidak mengerti kenapa aku begitu naif akan perubahan sikapmu terhadap Edo. Aku tidak bisa seperti kamu yang bisa membaca rasa hatiku yang tertarik pada Edo. Aku juga tidak bisa mengerti kenapa kamu tiba-tiba datang di ruang pengadilan untuk menangguhkan hukuman bagiku dan mengakui semuanya.
Kini aku sendiri. Di atas jembatan melengkung ini. Benar-benar sendiri. Tanpa Edo dan Bernard. Tanpa perahu-perahu reyot sejak jembatan ini diperbaharui. Tanpa suara-suara jangkrik yang menjadi tersingkir karena keramaian kedua desa yang terhubungi oleh jembatan melengkung ini. Tanpa kehadiran makhluk-makhluk misterius sungai. Tanpa semuanya. Bahkan Aki Jana dan kucing-kucingnya pun sudah tidak ada lagi. Di atas jembatan melengkung, yang usianya melebihi usia Kakek.
Nyanyian Rindu
Nyanyian itu lagi. Nada itu lagi. Kenapa nyanyian itu terus saja bergema di kepalaku? Aku nyaris gila karena mendengarnya. Tolong! Tolonglah aku. Jika memang ada malaikat penjaga di langit sana, aku mohon berikan keajaibanmu kepadaku agar menghilangkan nyanyian itu.
“Tahan napas dong, na, lo berat banget tau ga sih” Eva menyentakku dan kembali menyadarkanku dari nyanyian samar itu. Tatapan dari kesembilan anggota tim ku menyadarkanku dimana keberadaanku.
“Bahaya lo, na. Kalo elo jatoh tadi gimana?” sinis Dewi menegurku. Dan aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkannya. Aku adalah second base dalam tim cheerleader ini, dan aku tidak berkonsentrasi ketika kami membuat pyramid hingga menjadikan Eva merasakan beban yang lebih berat dari seharusnya ketika aku memanjat di atas punggungnya.
Nyanyian itu lagi. Dia bahkan kini menghantuiku. Dia terus mengikuti bahkan ketika aku menjadi raja atas kesadaran diriku. Dia terus datang. Terus menggangguku dengan suara indahnya. Terus menjalari persendianku hingga terasa getarannya. Apakah ini? Tolonglah, malaikat, tolonglah aku.
***
Tepuk tangan dan teriakan semangat menggema di seluruh stadion olah raga ini. Aku bisa merasakan adrenalin membuncah sejak dua tim basket mulai bertanding. Adrenalin juga memompa kami para tim pemandu sorak di ruang ganti. Sebentar lagi perempat babak pertama selesai. Jeda istirahat itu akan diisi oleh pertandingan cheerleader antar SMU se-Jakarta. Tim kami menempati penampilan kedua setelah tim dari SMU Tiara.
Reva, sang kapten cheers kami, mulai memimpin kami untuk meditasi. Seperti biasa sebelum penampilan, kami selalu bermeditasi untuk menenangkan pikiran kami setelah adrenalin memompa tadi.
Tapi suara lembut Reva yang membimbing kami meditasi membuat ku mengantuk. Ditambah lagi kami meditasi sambil duduk, tidak berdiri seperti biasanya. Lalu nyanyian itu membuaiku lagi. Nyanyian itu memenuhi rongga kepalaku lagi. Begitu indah, tapi juga begitu menyesakkan dada. Membuatku seperti melihat cahaya terang yang memaksaku menjangkaunya. Cahaya itu. Untuk pertama kalinya kulihat cahaya itu sejak nyanyian itu menggema di kepalaku. Cahaya yang sangat terang di ruangan yang berasap, entah oleh kabut atau asap rokok, tapi ruangan itu begitu berasap hingga tidak bisa kulihat apa2 di dalamnya. Tapi cahaya itu membimbingku menuju nyanyian itu.
“Riana…Riana…” sayup kudengar sesorang memanggil namaku. Kurasakan pedih di belakang kepalaku ketika kucoba membuka mataku untuk melihat siapa yang memanggilku. Baru kusadari ternyata aku pingsan dalam meditasi. Belakang kepalaku menghantam ujung kursi kayu yang reot dan dipermukaannya tersembul sedikit paku. Pantas saja kepalaku pedih.
***
“Na, lo dipanggil kepsek tuh” Tergesa Galang memberitahuku.
“Kenapa, Lang? Ko gw dipanggil sih?” Tapi Galang sudah terbang menuju ruang pencinta alamnya.
Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar dari Kepala Sekolahku. Beliau begitu marah dan sekaligus khawatir karena ternyata piala lomba fisika jatuh ke tangan SMU Rediva. SMU kami tertinggal ketika aku kembali pingsan dalam olimpiade fisika antar SMU itu.
Aku benar2 limbung sejak keluar dari ruang kepsek. Seminggu ini sudah ada dua orang yang membentakku sebelum mereka khawatir dan menatapku iba. Reva dan Mbak Elsi, pelatih cheers kami kecewa akibat kekalahan kami dalam pertandingan cheerleader antar SMU. Dan kini kepala sekolah dan seluruh jajaran guru juga merasakan hal yang sama.
Ini bukan salahku. Ini salah nyanyian itu. Salah ruangan berasap itu. Dan juga salah cahaya itu. Aku tidak bisa mencegahnya. Aku selalu merasa lelah jika melihat semua itu. Aku selalu merasa tertekan jika mendengar nyanyian itu. Jangan salahkan aku. Aku tidak bersalah.
***
Aku menjadi bisu. Akhirnya nyanyian itu menghantarkan kecelakaan tragis yang menjatuhkanku dari pyramid setinggi 4.5 meter. Kaki dan tanganku menjadi lumpuh dan lidahku kelu.
Entah apa yang mencegahku bicara. Aku hanya tidak ingin bersuara hingga bisa kutemukan ada apa dengan nyanyian itu. Papa sudah terlalu lelah menungguku bicara selama dua bulan ini. Tapi aku tetap bisu.
Aku juga ingin bicara, Papa. Aku ingin bercerita pada Papa akan nyanyian itu. Aku bahkan ingin mengajak Papa menuju ruangan berasap itu. Aku takut akan ruangan berasap itu, tapi aku rindu akan nyanyian itu. Asap dalam ruangan itu begitu pekat seperti mencegahku menuju asal nyanyian itu. Aku kini sedang berusaha mencapai cahaya itu agar aku bisa melihat dari mana asal mula nyanyian itu. Aku merasakan cinta juga, Pa. aku merasakan hangat. Inilah sebabnya nyanyian itu begitu indah. Tapi aku tidak bisa melihat siapa atau apa yang menyanyikan nada itu, Pa. Ruangan itu begitu berasap. Asal nyanyian itu juga terhalang oleh cahaya terang itu.
***
Bersambung
Kutemukan Syukur
Kembali ku pandangi semua reruntuhan bangunan di depanku. Tapi bukan hanya satu bangunan, banyak bangunan semi permanen kini telah hancur berantakan. Buldoser2 perkasa sudah melaksanakan tugasnya. Selain puing2 sisa bangunan, masih bisa kulihat wajah2 kelelahan.
Sebagai fotografer, akupun tidak kalah lelah dengan berjuta ekspresi di sekitarku. Aku terduduk lemah. Liputan pertamaku ini membuatku lelah luar biasa. Lapar dan haus menderaku. Penjual makanan dan minuman menuai rejeki dari penderitaan orang2 ini, penggusuran lahan di bantaran kali.
Naluri wartawanku tergerak untuk sekedar berbincang dengan orang2 disekitarku. Ada seorang bapak setengah baya mencoba mengumpulkan puing2 ‘rumah’nya.
“Assalamualaikum, Pak. Bisa saya Bantu?”
“Waalaikumus salam. Oh, boleh, boleh dek. Kebetulan saya lagi nyari kotak antik saya nih, dek. Bisa tolong carikan?” logat Jawa medoknya menjawab sapaanku ramah.
“Kaya gimana ya Pak bentuknya?”
“Ya kotak biasa, dek. Ada ukiran2ne gitu lho.”
“Oh, iya pak, saya coba cari. Memangnya itu kotak apa ya, Pak, kalo saya boleh tau, sepertinya penting banget, kotak perhiasan ya, Pak?”
“Oh bukan, dek. Kotak itu isine hanya foto2 saja. Foto2 jaman saya muda dulu sama bune.” Senyum malu2 dan tatapan menerawang ke masa lalu terlihat olehku.
Aku pun tidak kuasa menahan senyum. Ternyata bapak ini romantis juga, masih menyimpan foto2 masa mudanya bersama sang kekasih hati. Aku jadi teringat akan Maya, kekasih hatiku yang setia menungguku di Bandung sana.
“Waduh, kalo semisal kotaknya ndak ketemu piye iki ya dek? Bune musti marah sama aku?” ekspresi bingung tergambar jelas di matanya.
“Ya kan bapak tinggal jelasin keadaan sebenarnya sama istri bapak kalo memang ga bisa ketemu pak.”
“Ya ndak bisa, dek”
“Lho kenapa, Pak?” aku membayangkan istri si bapak dengan tubuh tambun memakai daster dengan banyak perhiasan di leher, tangan dan jarinya mengamuk pada bapak kurus ini.
“Bune udah meninggal dua tahun lalu, dek.” Suaranya melemah dan aku tertunduk malu mengingat khayalanku tadi. Dan cerita pun mengalir.
Istri dari Pak Teguh meninggal karena kangker payudara. Pak Teguh tidak bisa memiliki anak. Gara2 kecelakaan sewaktu mudanya membuat beliau steril. Istri Pak Teguh tetap mencintai Pak Teguh apa adanya walaupun pernikahan mereka tidak bisa menghadirkan seorang anak. Orang tua istri Pak Teguh tentu menentang pernikahan mereka, tapi sepertinya cinta sudah terlanjur mengakar di hati kedua insan muda itu. Mereka pun kawin lari dan menetap di Jakarta dengan kondisi seadanya.
Karena tidak memiliki anak, istri Pak Teguh harus menanggung resiko dari perempuan yang tidak pernah melahirkan dan menyusui, kanker payudara. Karena ketidakmampuan mereka, penyakit istri Pak Teguh tidak ditangani oleh professional hingga akhirnya merenggut nyawa beliau dalam hitungan bulan saja.
Dan pernyataan Pak Teguh soal kemarahan istrinya, hanyalah satu pernyataan tentang bagaimana tetap menghidupkan kenangan orang tercinta dalam hati dan hidupnya walaupun dia sudah meninggal.
“Satu2nya barang berharga saya ya kotak itu dek.”
“Lho bukannya yang tadi itu ada televisi punya Pak Teguh?” aku mengingat seorang ibu muda yang menginformasikan soal televisi Pak Teguh yang sudah diamankan oleh petugas.
“Walah, itu kan cuman televisi, rusak ato hilang ya tinggal ganti. Lha kalo kotak saya? Ndak akan terganti kan, dek.” Senyum pahit tergambar jelas di wajahnya.
Kenangan. Selalu menjadi hal paling berharga bagi manusia. Seperti kenanganku bersama Maya. Maya yang anggun, Maya yang penyayang, Maya yang manis dan lucu, Maya yang perasa dan lembut. Kembali kuteringat akan kekasihku, masa depanku.
“Sudah berapa lama tinggal disini, Pak?”
“Ya sejak menikah itu, dek”
“Wah lama juga ya, Pak. Sekarang rencananya Bapak mau tinggal dimana?”
“Kayanya saya mau pulang kampung saja, dek. Yah, saya mau kelola sawahnya Pak Kades saja.”
“Lho memangnya bapak nggak dapet ganti rugi dari pembongkaran ini?”
“Ganti rugi apa dek? Lha wong saya hanya penduduk gelap. Ini kan tanahnya pemerintah. Kalo pemerintah mau pake tanah ini ya mau gimana lagi saya?”
“Ya kan bapak sudah lama tinggal disini”
“Ya ndak bisa gitu dek. Saya sadar saya hanya numpang. Pemerintah sudah begitu baik sama saya ngebolehin saya tinggal disini selama ini. Nah kalo sekarang pemerintah mau membersihkan tanah ini ya saya ndak boleh protes. Lagian pemerintah bener, dek. Kalo kami terus tinggal disini bisa bahaya. Bahaya banjir, bahaya penyakit, bahaya longsor.” Jawabnya panjang lebar.
Lagi2 aku tertunduk malu akan kebesaran hati Pak Teguh dan pandangan sederhananya tentang kejadian ini. Aku makin tertarik untuk berbicara lebih banyak dengan bapak ini.
“Terus gimana tadi perlakuan polisi2 nya, pak?” aku makin penasaran dengan komentar Pak Teguh akan polisi2 kita dan jeleknya rumor tentang kekasaran polisi pamong praja.
“Ya mereka baik ko sama kita. Memangnya kenapa nanya soal itu, dek?”
“Yah, kan biasanya polisi pamong praja suka kasar, pak. Mereka suka seenak-enaknya ngebentak-bentak. Suka seenaknya ngebongkar paksa. Bener2 gak manusiawi.” jelasku geram mengingat tingkah polah para polisi2 itu.
“Mereka ndak kasar ko, dek. Lha wong sampe sekarang saya dan warga sini ndak pernah dikasari ko. Mungkin mereka seperti itu karena warganya saja yang ndak sadar dan ngeyel. Ini kan tanah pemerintah tapi sudah merasa berhak memiliki. Kebanyakan warga juga yang mulai, dek. Mereka suka meludahi bapak2 polisinya dan mereka juga suka main pukul nyalahin bapak polisi. Kan kasihan juga dek bapak2 polisi itu. Mereka kan cuman njalanin tugas aja dari pejabat. Mereka juga capek, gajinya kecil, resikonya gede untuk dijadiin kambing hitam atas semua penggusuran ini”
Makin kagum aku oleh kebijaksanaan bapak ini. Dan cakrawala berpikirku makin luas. Aku sadar sebagai wartawan sekaligus fotografer seharusnya aku lebih banyak melakukan pembicaraan seperti ini. Aku sadar dengan sikap idelaismeku selama di kampus yang cenderung menyalahkan pemerintah akan nasib rakyat kecil yang terkena gusuran seperti ini. Ternyata prestasiku yang cepat mendapatkan kerja begitu lulus dari universitas justru menjadi ketidaktahuanku akan dunia nyata, sekaligus gambaran akan ketidaksiapanku menghadapi kehidupan.
“Wah ketemu, Alhamdulillah Gusti Pangeran.” Tiba2 Pak Teguh berseru kegirangan demi melihat kotak lusuhnya. Dan Pak Teguh langsung melaksanakan sujud syukur di tanah. Aku tertegun melihat sujud syukur yang dilakukan Pak Teguh. Sekian banyak sudah kulakukan sujud syukur atas nilai2ku yang bagus, atas keberhasilanku menjuarai lomba fotografi, atas kelulusanku yang menempati posisi tertinggi, atas anggukan kepala Maya yang menerima lamaranku, atas…ah, begitu banyak, tapi tidak pernah aku melakukannya seperti yang Pak Teguh lakukan.
Beliau menyentuh tanah seperti beliau menyentuh tanah suci. Beliau bersujud sambil menangis haru seperti menemukan kenyataan bahwa istrinya bisa kembali lagi kepelukannya. Beliau seolah-olah memeluk tanah. Tanah airnya. Tanah kelahirannya.
Sambil menyeka air matanya, beliau menyalamiku dan mengucapkan banyak terima kasih.
“Lho, pak, ko terima kasih sama saya? Kan Bapak sendiri yang nemuin kotaknya.”
“Ya saya terima kasih sama adek yang sudah mau berusaha mencarikan kotak saya. Jarang lho ada anak muda yang sudah kelelahan seperti adek tadi yang mau membantu saya cuma untuk mencari kotak jelek koyo ngene.” Senyum tulusnya mengembang.
“Ketemu kotaknya Pak?” seorang bapak bertubuh besar dengan logat Batak yang kental mengagetkanku.
“Alhamdulillah ketemu Pak Tagor, terima kasih ya sudah mbantu saya mencarinya” lembut Pak Teguh menjawab pertanyaan bapak bernama Tagor itu.
“Puji Tuhan kalo sudah ketemu. Aku ini masih mencari Alkitab peninggalan Tulang aku.” Jawabnya lemas.
“Pak Tagor, ini Alkitab Bapak bukan?” Tiba2 seorang perempuan berseru kepada Pak Tagor. Refleks Pak Tagor berlari menyongsong perempuan bertubuh mungil itu.
“Puji Tuhan, terima kasih uni, terima kasih” Seperti Pak Teguh, Pak Tagor berterima kasih sambil matanya berkaca-kaca. Dan perempuan yang di panggil uni hanya tersenyum malu2 atas ucapan terima kasih dari Pak Tagor yang sepertinya berlebihan.
Aku tertegun melihat keakraban dari para penghuni bantaran kali ini. Mereka begitu akrab satu sama lain. Persaudaraan mereka sangat kental walaupun mereka berbeda suku dan agama.
Brakkkk. Tiba2 suara sangat besar terdengar mengagetkan orang2 di sekitar termasuk aku. Ternyata sebuah bangunan lagi hancur oleh buldoser. Pria2 berdasi dan sekumpulan polisi terlihat memperhatikan para pekerja dengan sesekali meneriakkan sesuatu memberi perintah. Ternyata peluh dan wajah lelah pun terpancar dari mereka. Perlahan aku coba mendekati seorang pria yang tadi pagi berpakaian rapi yang kini pakaiannya sudah lusuh oleh keringatnya.
“Selamat sore, Pak.” Pria itu terlonjak oleh sapaanku.
“Eh, selamat sore.” Jawabnya gugup menetralkan kekagetannya tadi.
“Waduh, maaf Pak kalo saya mengagetkan.”
“Oh, gak apa-apa, Mas. Saya memang lagi ngelamun tadi. Ada apa ya, Mas?”
“Saya fotografer dari Majalah Ibu Kota, mau ambil foto2 disini boleh, Pak?”
“Oh, boleh, boleh, silahkan saja, Mas”
Sambil mengambil beberapa foto, aku memperhatikan pria tadi. Dia masih melamun. Dan matanya seperti tidak fokus pada apa yang sedang dilakukannya sekarang.
Lalu tiba2. “Awas!” suara teriakan mengagetkanku dan refleks kutarik pria melamun di dekatku ini. Brakkk. Sebuah kayu terjatuh. Rupanya rumah semi permanent yang belum terbongkar itu sudah benar2 rapuh hingga goncangan sedikit saja membuatnya rubuh.
“Makasih, Mas, makasih” pria itu bergumam lemah menahan gemetarnya karena kepalanya nyaris tertimpa kayu.
“Sama2, Pak. Bapak ngelamun aja dari tadi, sampe ga merhatiin apa2. Hati2, Pak” Aku pun sedikit kesal karena dengan menyelamatkan pria itu kameraku terbanting.
“Maaf ya, Mas, gara2 saya kamera Mas jadi jatuh.”
“Oh, gak apa2, Pak.” Suara penuh penyesalan itu membuatku melupakan kekesalanku.
“Saya bener2 minta maaf, Mas. Saya memang salah. Dari tadi saya mikirin masalah pribadi saya. Ibu saya sekarang sakit, Mas. Gagal ginjal dan harus cuci darah seminggu dua kali.” Tiba2 dia bercerita dengan lancar seolah-olah kata2nya barusan sudah lama dia pendam dan ingin dia ceritakan.
“Oh, maaf Pak, saya turut prihatin. Mau minum, Pak?” Aku mencoba menenangkan pria disampingku yang sepertinya terlihat lelah luar biasa. Kupanggil penjual minuman dan mempersilahkan pria itu duduk sambil melepas lelahnya. Pria itu menawarkan rokoknya dan aku menerimanya dengans enang hati karena sejak tadi ternyata aku belum merokok sedikitpun.
“Dari kemarin saya belum pulang, Mas. Kerjaan ini banyak menyita waktu saya dan saya juga berharap mendapatkan uang lebih dari bos kalau saya mau lembur seperti ini.”
“Lho memangnya Bapak ga dapet uang lembur?”
“Yah, dapet sih, Cuma atas kebijaksanaan atasan saya langsung, Mas. Saya juga gak berharap banyak dari pemerintah dalam masa sulit ini. Utang IMF kebayar aja saya udah bersyukur banget, akhirnya, bisa juga kebayar. Tapi utang2 yang lain kan masih banyak.” Jelasnya panjang lebar.
“Jadi, Bapak ini gak pulang dari kemaren Cuma untuk menunggu uang tambahan yang tidak seberapa.” Jawabku lebih kepada menjawab pertanyaan hatiku yang miris mendengar jawaban pria disampingku ini.
“Ini juga masalah tanggung jawab, Mas. Banyak orang bilang pegawai negeri males2, kerjaannya cuma tanda tangan absensi, terus sarapan pagi sambil ngobrol, ngerokok dipojokan sambil baca koran, main game di computer atau browsing situs2 yang tidak ada hubungannya sama pekerjaan, dan yang lebih parah lagi, tidur. Memang sih yang seperti itu ada, tapi saya dan rekan2 saya tidak seperti itu. Tanggung jawab kami juga untuk melakukan pekerjaan ini, Mas. Orang2 ini akan sangat berbahaya jika terus tinggal disini, apalagi kalo musim hujan, kebanjiran deh.” Jawaban yang sama dengan jawaban Pak Teguh.
“Hmm.” Aku mendengarnya sambil menghirup dalam rokok di tanganku.
“Dan juga saya dan rekan2 dibayar oleh pemerintah, yang duitnya dari rakyat. Rakyat bayar pajak penghasilan untuk membayar operasional pemerintahan termasuk membayar pegawainya. Orang tua saya bukan pns, adik2 saya juga bukan, berarti mereka juga ikut andil terhadap pembayaran gaji saya yang ga seberapa. Anak2 saya sekolah di sekolah negeri dan saya harus membayar untuk buku dan lain sebagainya, otomatis saya juga ambil peran dalam pembayaran guru. Sebenarnya cuma muter2 aja sih ya, Mas. Bener2 dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.” Sambil tertawa kecil dengan jawabannya yang ngalor ngidul, pria itu menyulut rokoknya dan menghirupnya dalam. Aku pun jadi ikutan tersenyum.
Sebenarnya pria ini hanya butuh teman untuk ngobrol, mengeluarkan isi hatinya. Tanggung jawab dan bakti terhadap orang tua juga keluarganya sendiri membuatnya lelah. Tapi walaupun pria ini lelah, pendapatnya tentang pemerintahnya tadi benar2 tulus. Dia mengabdi kepada pemerintah dan rakyat yang sudah menghidupinya. Dia tidak marah atau sinis terhadap pemerintah.
Hari ini belum berakhir. Bukan saja aku mendapatkan liputan dan foto2 bagus, tapi aku sudah banyak mendapatkan pelajaran. Pelajaran dari orang2 ini. Mereka sangat positif memandang kehidupan, membuat mereka tidak akan cepat tua di belantara Jakarta, membuat mereka lebih tulus menjalani hidup yang memang sudah sulit.
Aku pun mengganti isi liputanku. Awalnya, sebelum aku datang ke tempat ini, aku sudah membayangkan isi liputanku akan penuh dengan adegan2 kerusuhan, caci maki terhadap kepolisian dan pemerintah, kekasaran terhadap penduduk gelap di bantaran kali dan di tambah dengan foto2 dramatis tentang penderitaan orang2 yang tergusur dari rumahnya. Tapi kini aku akan menggantinya dengan adegan2 kekeluargaan, harapan, masa depan dan sikap positif dari semua orang2 yang ambil bagian dalam penggusuran ini.
Hidup memang indah. Tuhan sudah bermurah hati memberikan hidup. Karena itu aku tidak ingin mengisinya lagi dengan sikap sinis. Aku sudah menemukan syukur dalam liputan pertamaku ini.
Alunan Cinta
Penat. Rasa ini menguasai begitu dalam. Aku bahkan tidak bisa berfikir jernih ketika Bang Gontor memintaku kembali ke gedung ini untuk mengambil bahan presentasi yang tertinggal oleh Sita, si sekretaris. Aku hanya bisa mengumpat karena menjadi laki2 lemah yang menurut saja akan permintaan Sita yang didukung Bang Gontor untuk mengambil file itu.
26…27…28…Serasa bertahun – tahun ku menunggu lift ini sampai ke lantai 30. Rasanya seperti naik pesawat terbang, apalagi dengan kepenatan ini. Lift sudah tidak lagi penuh sesak karena saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 8.30 malam. Lalu akhirnya angka kecil di samping pintu lift menunjukkan angka 30, momen yang paling aku tunggu.
Pintu perlahan terbuka dan dia didepanku, bermaksud untuk turun. Sesaat kami hanya bertatapan. Dia dan aku. Kami sama-sama tidak bisa berbicara kecuali saling menatap. Rasanya waktu sudah sangat lama ketika terakhir kumelihatnya. Baru dua bulan berselang. Dua bulan terlama dan paling menyiksa dalam hidupku hingga menyisakan kepenatan di hari ini juga hari2 lain sebelumnya.
Ruang lift sudah tidak ada siapa2 lagi kecuali aku yang hanya bisa diam menatap sosok indah itu. Dan mau tidak mau memori di kepalaku seperti di rewind secara kilat akan kenangan2 yang terjadi bersamanya. Selama sekian detik memoriku bisa memutar seluruh file kehidupan kami. Masih bisa kuingat jelas manis wangi parfumnya ketika kami tidak sengaja bertubrukan di kafetaria gedung ini. Kopi dan kue kami saling berhamburan, ditambah lagi dengan file2nya yang rusak karena tumpahan kopi. Aku merasa bersalah karena aku tidak melihatnya melintas dan dia pun merasakan hal yang sama karena dia terburu-buru. Tapi dengan kesalahan kami berdua justru membuat kami bisa melewati sore itu dalam percakapan hangat. Kesalahan termanis yang pernah kubuat.
Sejak itu kami menjadi dekat. Ditambah lagi dengan kerja sama antara kantor kami yang selalu menambah kesempatan kami untuk bertemu.
Dia sangat manis. Cara bicaranya lucu. Seorang yang sangat jujur akan segala kelemahan dan kelebihan dirinya. Dia juga manja. Masih bisa kuingat wangi rambut lembutnya ketika dia bersandar nyaman di dadaku, di dalam apartemennya yang hangat.
Kami begitu mesra seperti sepasang kekasih walaupun kami tidak meresmikan hubungan kami, bahkan kami merahasiakannya Ranjang besar di kamar apartemennya menjadi saksi mati akan permainan cinta kami. Tapi jika sampai ke kantor, kami bersikap seperti main kucing-kucingan. Dia selalu tersenyum penuh arti jika bertemu denganku. Dan di dalam hatiku selalu merasa seperti ada yang mau meloncat keluar jika melihat sosoknya. Baik orang2 di kantornya maupun di kantorku tidak ada yang mengetahui jika kami saling jatuh cinta, mereka hanya tahu kami dua rekan kerja yang bersahabat baik.
Lalu file kehidupanku dengannya meloncat pada sore hari di kota kembang. Dinginnya udara pegunungan menambah syahdu kebersamaan kami. Susu murni ditambah pisang goreng menemani canda dan tawa kami. Semburat oranye dari matahari yang sebentar lagi terbenam di tambah celotehan anak2 bermain layang2 di lapangan ikut menceriakan suasana bersamanya.
Tapi tiba2 file dalam otakku memaksaku melihat file kehidupan paling menyakitkan dalam hidupku. Dia meninggalkanku. Dia keluar dari apartemen kami (apartemennya menjadi apartemen kami setelah kami memutuskan untuk hidup bersama). Dia pergi hanya dengan satu koper kecil. Dia bahkan meninggalkan baju2 kesayangannya teronggok dalam lemari besar di dressing room miliknya. Yang paling menyakitkanku adalah dia keluar dengan berurai air mata tanpa sanggup kumencegahnya.
Ya, aku tidak sangguo mencegahnya. Bahkan untuk mengucapkan kalimat penghiburan pun aku tak sanggup. Sungguh aku benar2 laki2 lemah, manusia bodoh. Aku tidak bisa mencegah orang yang paling kucintai menderita.
Semuanya berawal dari telepon dari orang tuanya. Mereka ingin dia segera menikah dan tentu saja tidak denganku. Hubungan kami yang sudah memasuki tahun kelima tercium oleh orang tuanya dan mereka sangat murka karenanya. Kami jelas tidak bisa bersatu, jurang yang sangat dalam selalu saja menghalangi cinta kami.
“Aku cinta kamu Rangga” katanya sedih ketika dia berpamitan denganku.
Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu. Jangan pergi, sayang. Jangan tinggalkan aku. Aku memohon dalam hati. Tidak punya cukup keberanian untuk menahannya. Tidak cukup punya nyali untuk membawanya pergi dan mengikrarkan cinta kami di ujung dunia yang berbeda.
“Bagaimana mereka bisa tahu?” Aku hanya bisa bertanya dengan lesu.
“Aku ga tahu Ngga, mereka begitu aja tahu soal kita”
“Tapi bagaimana mereka bisa tahu???” aku mulai berteriak tidak bisa menahan emosiku. Kulempar patung cupid kesayangannya hadiah ulang tahunnya yang ke – 28 dari ku. Bisa kulihat dia kaget dan mulai menangis.
Lalu dia melangkah pergi. Meninggalkanku dengan banyak pertanyaan yang sama seperti di dalam kepalanya. Adilkah ini, Tuhan? Kenapa kami dipertemukan jika kami tidak boleh saling mencinta? Kami tidak menyakiti siapapun, Tuhan.
Seluruh isi apartemen ini menjadi sangat mendukung ku melewati episode sakit hatiku. Sepasang gelas bertuliskan nama kami seperti mengejekku. Celemek hijau yang selalu menemani kegiatan akhir minggu kami membuat kue jahe di apartemen tergantung lesu. Lalu dua sikat gigi dengan warna kesukaan kami. Handuk kecil untuk wajah yang selalu bersih dicuci olehnya. Sandal kamar bergambar Bugs dan Babs Bunny milik kami berdua. Dan semuanya. Semuanya mengingatkanku padanya.
Akhirnya kudengar kalau dia sudah bertunangan dan akan segera menikah. Hanya sebulan setelah dia kembali ke rumah orang tuanya. Dan lagi-lagi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya hanyut dalam rasa sakit ini. Tindakan paling ekstrim dariku hanya pindah dari apartemen itu untuk bisa cepat melupakannya.
“Rangga,,,,” Lemah dia memanggil namaku.
“Di,,,,,,” Tak sanggup kumeneruskan demi melihat matanya yang merindukanku.
Tanpa sanggup kutahan, aku menarik tubuhnya untuk mendekat pada tubuhku. Aku benar2 merindukan hangat sentuhannya. Dan dia pun sama sekali tidak menolaknya. Pelukan dan ciuman penuh nafsu memenuhi ruang kecil lift itu yang sengaja kutahan diam di lantai itu. Kami berdua sudah lama memendam rasa ini. Rasa untuk bertemu dan kembali memadu kasih tak sampai ini.
Lalu tiba2 pintu lift terbuka tanpa kami sadari dan tentu saja tanpa bisa merubah posisi kami yang masih bergumul mesra. Dan Bejo si Office Boy tukang gosip menatap kami dengan ekspresi kaget luar biasa. Dan bisa kubayangkan reaksi orang2 kantornya dan kantorku jika mengetahui kabar ini.
“Pak Rangga….Pak Dito….????”
AADC
masih inget kan gimana booming nya tu film di jamannya,,,cinta yang bingung dengan cinta,,,
cinta memang membingungkan sih,,,
cinta memabukkan,cinta menyenangkan,cinta membutakan,cinta juga membawa berkah dan kebahagiaan,,,
tapi cinta juga menyeramkan,menyakitkan,membawa trauma mendalam,,,
ada apa sih dengan cinta???
banyak jenis pecinta dengan berbagai cara untuk mencintai,,,
ada yang mencinta dengan obsesinya yang begitu mendalam akan arti cinta pertama,,,asumsinya “first love is never die” menguasai dirinya sehingga butalah dia akan segala pesona cinta pertamanya,,,dia tidak sadar akan seseorang yg sudah mendampinginya selama lebih dari seribu malam,,,bahkan obsesi akan cinta pertamanya pun selalu menjadi pemicu pertengkaran diantara sepasang kekasih itu,,,tapi dia tidak pernah meninggalkan kekasihnya untuk mengejar cinta pertamanya,,,dia tetap setia,tetap mencintai kekasihnya dengan hati yg berpijak pada kenyataan,bukan mimpi ataupun obsesi akan cinta pertamanya,,,dia tetap melihat cinta pertamanya bagaikan bidadari cantik yang sudah terbang tinggi meninggalkannya sejak mereka berpisah di masa remajanya dulu,,,dengan sembunyi2 dia memikirkannya,dengan sembunyi2 dia meneleponnya hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun atau idul fitri,,,dia mengagumi cinta pertamanya,,,dia sudah cukup puas karena masih bisa berteman dengan cinta pertamanya,,,
ada yg mencintai dengan menggebu,menggelora,sehingga dia lupa akan akal sehatnya,,,dia mengirimi pujaan hatinya pesan2 singkat yang dipikirnya romantis,tapi ternyata membuat pujaan hatinya ketakutan,,,dia mulai bingung dengan pikirannya sendiri karena bayangan sang pujaan hati tidak bisa lepas darinya,setiap saat,setiap detik,bahkan setiap kejadian,,,dan akhirnya dia mulai menyalahkan pujaan hatinya karena bayangan sang pujaan hati itu tidak bisa lepas darinya,,,dia memohon pada sang pujaan hati untuk meninggalkannya,meninggalkan mimpinya,meninggalkan pikirannya,meninggalkan isi hatinya,,,sedangkan sang pujaan hatinya menjadi bingung dan sangat ketakutan dengan semua paranoia itu,,,sang pujaan hati tidak mengerti kenapa dia yg harus bertanggung jawab akan bayang2 dirinya yg timbul dipikiran si pecinta karena sedikitpun dia tidak melakukannya dan karena ternyata sang pujaan hati itu mencintai orang lain,,,si pecinta terus2an menghubungi sang pujaan hati dengan meneleponnya,mengiriminya pesan2 yang lagi2 membuat sang pujaan hatinya ketakutan,mengiriminya hadiah2 walaupun sang pujaan hatinya sudah berkata jujur tidak mencintainya,mengacuhkannya karena dia tetap meminta pertanggungjawaban akan bayang2 dipikirannya,bahkan memakinya jika dia mulai kelewatan dengan pesan2 menyeramkan yang dia kirimkan,,,
seorang pejuang tangguh seperti Caesar pun mampu menaklukkan banyak negara hanya karena permintaan sang kekasih cantiknya, Cleopatra,,,di medan perjuangan dia gagah berani tanpa kenal takut,tapi hatinya tunduk dibawah kecantikan sang kekasih,,,
cinta yang berbalas dan membawa kebahagian pastilah hal yg sangat diinginkan,,,mereka saling mendukung satu sama lain,mereka saling melengkapi dan mengerti,,,mereka seperti romeo dan juliet yang selalu bersama bahkan kematian pun tidak dapat memisahkan mereka,,,mereka sudah sering terpisah kota bahkan benua,tapi cinta yang mereka miliki begitu kuatnya sehingga menceriakan dunia di sekeliling mereka,,,
ada yang mencintai dengan tulur ikhlas walaupun sang kekasih menyakitinya dengan terus2an berselingkuh di belakangnya bahkan terang2an mencuranginya di depannya,,,dia sabar menghadapi sang kekasih don juannya,,,dia terus mendampinginya,memberikan cintanya,supportnya,bahkan memberikannya kesempatan untuk entah yang keberapa kalinya,,,hatinya menangis,hatinya terluka,tapi dia mencintai kekasihnya,,,cintanya begitu besar hingga benar2 cukup untuk mereka berdua,,,
ada yang mencintai dari jauh,,,melihat sang pujaan hati sudah cukup membuatnya bahagia,,,melihat sang pujaan hati bahagia akan membuatnya tertawa,,,mengetahui sang pujaan hati bersedih akan membuatnya menangis,,,dia tidak bisa mengungkapkan isi hatinya karena sang pujaan hati sudah dimiliki orang lain,,,dia berdoa,dia berharap,dia memohonkan kebahagiaan sang pujaan hati,,,dia tidak memperdulikan sakit hatinya,asal dia bisa melihat sang pujaan hati bahagia,dia pun akan tertawa diatas menangisnya hatinya,,,
lalu cinta tanpa pamrih,,,beratnya mengandung sang buah hati,sakitnya melahirkannya,repotnya mengurusnya,bingungnya mencemaskan sang buah hati. Belum lagi peluh yang dikeluarkan untuk memberinya makan,menyekolahkan buah hatinya,memberikan kehidupan yang layak,berjuang mati2an di belantara kehidupan demi keluarga yang disokongnya,dunia kecil yg dicintainya,,,semuanya dijalani dengan ikhlas tulus tanpa balasan apapun,,,cinta yang tak pernah ada habisnya,,,rasa aman,rasa tentram,rasa percaya,dukungan dan keceriaan akan bisa kita dapatkan dengan menjadi bagian darinya,,,tapi ternyata banyak pecinta2 yang tidak mendapatkan hangatnya cinta sepanjang jaman ini,,,
dan aku,,,,ya aku,,,aku pun punya kisah sendiri yang selalu mencintai ksatriaku diatas satria birunya,,,
ada apa sih dengan cinta,,,? kenapa cinta membahagiakan tapi sekaligus membawa penderitaan?