Alunan Cinta

April 22, 2008 at 3:11 am (Cerpen) ()

Penat. Rasa ini menguasai begitu dalam. Aku bahkan tidak bisa berfikir jernih ketika Bang Gontor memintaku kembali ke gedung ini untuk mengambil bahan presentasi yang tertinggal oleh Sita, si sekretaris. Aku hanya bisa mengumpat karena menjadi laki2 lemah yang menurut saja akan permintaan Sita yang didukung Bang Gontor untuk mengambil file itu.

26…27…28…Serasa bertahun – tahun ku menunggu lift ini sampai ke lantai 30. Rasanya seperti naik pesawat terbang, apalagi dengan kepenatan ini. Lift sudah tidak lagi penuh sesak karena saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 8.30 malam. Lalu akhirnya angka kecil di samping pintu lift menunjukkan angka 30, momen yang paling aku tunggu.

Pintu perlahan terbuka dan dia didepanku, bermaksud untuk turun. Sesaat kami hanya bertatapan. Dia dan aku. Kami sama-sama tidak bisa berbicara kecuali saling menatap. Rasanya waktu sudah sangat lama ketika terakhir kumelihatnya. Baru dua bulan berselang. Dua bulan terlama dan paling menyiksa dalam hidupku hingga menyisakan kepenatan di hari ini juga hari2 lain sebelumnya.

Ruang lift sudah tidak ada siapa2 lagi kecuali aku yang hanya bisa diam menatap sosok indah itu. Dan mau tidak mau memori di kepalaku seperti di rewind secara kilat akan kenangan2 yang terjadi bersamanya. Selama sekian detik memoriku bisa memutar seluruh file kehidupan kami. Masih bisa kuingat jelas manis wangi parfumnya ketika kami tidak sengaja bertubrukan di kafetaria gedung ini. Kopi dan kue kami saling berhamburan, ditambah lagi dengan file2nya yang rusak karena tumpahan kopi. Aku merasa bersalah karena aku tidak melihatnya melintas dan dia pun merasakan hal yang sama karena dia terburu-buru. Tapi dengan kesalahan kami berdua justru membuat kami bisa melewati sore itu dalam percakapan hangat. Kesalahan termanis yang pernah kubuat.

Sejak itu kami menjadi dekat. Ditambah lagi dengan kerja sama antara kantor kami yang selalu menambah kesempatan kami untuk bertemu.

Dia sangat manis. Cara bicaranya lucu. Seorang yang sangat jujur akan segala kelemahan dan kelebihan dirinya. Dia juga manja. Masih bisa kuingat wangi rambut lembutnya ketika dia bersandar nyaman di dadaku, di dalam apartemennya yang hangat.

Kami begitu mesra seperti sepasang kekasih walaupun kami tidak meresmikan hubungan kami, bahkan kami merahasiakannya Ranjang besar di kamar apartemennya menjadi saksi mati akan permainan cinta kami. Tapi jika sampai ke kantor, kami bersikap seperti main kucing-kucingan. Dia selalu tersenyum penuh arti jika bertemu denganku. Dan di dalam hatiku selalu merasa seperti ada yang mau meloncat keluar jika melihat sosoknya. Baik orang2 di kantornya maupun di kantorku tidak ada yang mengetahui jika kami saling jatuh cinta, mereka hanya tahu kami dua rekan kerja yang bersahabat baik.

Lalu file kehidupanku dengannya meloncat pada sore hari di kota kembang. Dinginnya udara pegunungan menambah syahdu kebersamaan kami. Susu murni ditambah pisang goreng menemani canda dan tawa kami. Semburat oranye dari matahari yang sebentar lagi terbenam di tambah celotehan anak2 bermain layang2 di lapangan ikut menceriakan suasana bersamanya.

Tapi tiba2 file dalam otakku memaksaku melihat file kehidupan paling menyakitkan dalam hidupku. Dia meninggalkanku. Dia keluar dari apartemen kami (apartemennya menjadi apartemen kami setelah kami memutuskan untuk hidup bersama). Dia pergi hanya dengan satu koper kecil. Dia bahkan meninggalkan baju2 kesayangannya teronggok dalam lemari besar di dressing room miliknya. Yang paling menyakitkanku adalah dia keluar dengan berurai air mata tanpa sanggup kumencegahnya.

Ya, aku tidak sangguo mencegahnya. Bahkan untuk mengucapkan kalimat penghiburan pun aku tak sanggup. Sungguh aku benar2 laki2 lemah, manusia bodoh. Aku tidak bisa mencegah orang yang paling kucintai menderita.

Semuanya berawal dari telepon dari orang tuanya. Mereka ingin dia segera menikah dan tentu saja tidak denganku. Hubungan kami yang sudah memasuki tahun kelima tercium oleh orang tuanya dan mereka sangat murka karenanya. Kami jelas tidak bisa bersatu, jurang yang sangat dalam selalu saja menghalangi cinta kami.

“Aku cinta kamu Rangga” katanya sedih ketika dia berpamitan denganku.

Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu. Jangan pergi, sayang. Jangan tinggalkan aku. Aku memohon dalam hati. Tidak punya cukup keberanian untuk menahannya. Tidak cukup punya nyali untuk membawanya pergi dan mengikrarkan cinta kami di ujung dunia yang berbeda.

“Bagaimana mereka bisa tahu?” Aku hanya bisa bertanya dengan lesu.
“Aku ga tahu Ngga, mereka begitu aja tahu soal kita”
“Tapi bagaimana mereka bisa tahu???” aku mulai berteriak tidak bisa menahan emosiku. Kulempar patung cupid kesayangannya hadiah ulang tahunnya yang ke – 28 dari ku. Bisa kulihat dia kaget dan mulai menangis.

Lalu dia melangkah pergi. Meninggalkanku dengan banyak pertanyaan yang sama seperti di dalam kepalanya. Adilkah ini, Tuhan? Kenapa kami dipertemukan jika kami tidak boleh saling mencinta? Kami tidak menyakiti siapapun, Tuhan.

Seluruh isi apartemen ini menjadi sangat mendukung ku melewati episode sakit hatiku. Sepasang gelas bertuliskan nama kami seperti mengejekku. Celemek hijau yang selalu menemani kegiatan akhir minggu kami membuat kue jahe di apartemen tergantung lesu. Lalu dua sikat gigi dengan warna kesukaan kami. Handuk kecil untuk wajah yang selalu bersih dicuci olehnya. Sandal kamar bergambar Bugs dan Babs Bunny milik kami berdua. Dan semuanya. Semuanya mengingatkanku padanya.

Akhirnya kudengar kalau dia sudah bertunangan dan akan segera menikah. Hanya sebulan setelah dia kembali ke rumah orang tuanya. Dan lagi-lagi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya hanyut dalam rasa sakit ini. Tindakan paling ekstrim dariku hanya pindah dari apartemen itu untuk bisa cepat melupakannya.
“Rangga,,,,” Lemah dia memanggil namaku.
“Di,,,,,,” Tak sanggup kumeneruskan demi melihat matanya yang merindukanku.

Tanpa sanggup kutahan, aku menarik tubuhnya untuk mendekat pada tubuhku. Aku benar2 merindukan hangat sentuhannya. Dan dia pun sama sekali tidak menolaknya. Pelukan dan ciuman penuh nafsu memenuhi ruang kecil lift itu yang sengaja kutahan diam di lantai itu. Kami berdua sudah lama memendam rasa ini. Rasa untuk bertemu dan kembali memadu kasih tak sampai ini.

Lalu tiba2 pintu lift terbuka tanpa kami sadari dan tentu saja tanpa bisa merubah posisi kami yang masih bergumul mesra. Dan Bejo si Office Boy tukang gosip menatap kami dengan ekspresi kaget luar biasa. Dan bisa kubayangkan reaksi orang2 kantornya dan kantorku jika mengetahui kabar ini.

“Pak Rangga….Pak Dito….????”

Permalink Leave a Comment