Anak Perempuanku
Hoeeekkkk. Hoeeekkkk. Perut ini tidak bisa lagi menahan mual yang amat sangat. Belum lagi kubasuh mulutku, pusing dikepalaku menusuk-nusuk memerintahkanku kembali tertunduk. Muntah.
Hamil. Iya. Aku hamil lagi. Kali ini hatiku semakin cemas memikirkan kehamilanku yang ketujuh. Dimataku terbayang kelima anakku, dan masih bisa terlihat jelas seonggok darah anak keempatku yang belum sempat kurawat karena meninggalnya bapak membuatku yang sedang hamil muda tak sanggup menahan rasa lelah.
Takut. Aku takut untuk meneruskan kehamilanku. Aku takut pergi ke dokter untuk memeriksa kehamilanku ini. Bukan karena aku tidak menyayangi anak ini. Bukan. Justru aku sangat menyayangi anak ini hingga aku tidak berniat meneruskan kehamilanku.
Kuakui aku seorang Bunda yang lemah. Kelima anakku semuanya cantik dan sehat, tapi tidak secara batin. Aku bisa merasakan mereka lelah. Aku bisa merasakan mereka cemburu dengan teman-teman mereka yang punya keluarga harmonis.
Masih bisa kuingat jelas perkataan Fani, Fatharani Putri, anak ketigaku. „Bunda, kenapa sih gak cerai aja ma Ayah?” sinis perkataannya ditengah pecahan-pecahan piring yang terlempar olehku dan ayahnya. Padahal saat itu umurnya belum genap 6 tahun.
Kini Fani sudah sepuluh tahun dan aku masih saja berlempar-lemparan berbagai benda dengan ayahnya.
***
Kandunganku sudah berumur delapan bulan. Sudah berat sekali kaki ini melangkah. Dan aku masih belum merasa gembira akan kelahiran anakku.
Tertekan sekali batinku melihat Mas Rafli yang berharap kalau anak yang akan lahir kali ini adalah laki-laki. Dan berat sekali rasanya karena perasaanku pun kali ini sama dengan Mas Rafli.
Aku merasa bersalah karena punya perasaan buruk sekali karena tidak menginginkan anak perempuan lagi. Tapi aku tidak bisa memungkiri jika dalam tiap sujudku, doa yang kupanjatkan agar anak yang lahir ini anak laki-laki.
Betapa tega hatiku sebagai bunda tidak mendoakan kesehatan anak dalam kandunganku. Betapa kejam pikiranku ketika dulu dia berkata padaku untuk mengugurkan kandungan ini.
Maafkan Bunda sayang, maafkan Ayah dan Bunda karena tidak menginginkanmu menjadi perempuan.
Kuusap perut besarku sambil menahan sesak ini. Berkecamuk pertanyaan dalam kepalaku. kenapa anak perempuan masih saja tidak berharga di mata Mas Rafli? Mengapa dia begitu buta akan keinginannya akan anak laki-laki hingga tega-teganya dia mengawini Lasmi secara siri hanya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan? Dan mengapa dia begitu kejam meninggalkan Lasmi sendiri ketika ternyata anak yang dilahirkannya tetap tidak punya penis?
Kini anak-anakku pun sudah tidak bersemangat untuk menanti kelahiran adik bayi mereka. Hanya Maura, si kecil yang masih melotot takjub melihat perut besarku dan merasakan gerakan halus adiknya.
Kayla sudah beranjak remaja. Sudah 14 tahun umurnya. Dan sudah bosan melihat ekspresi dan tingkah laku ayahnya yang kecewa karena adiknya dan dirinya adalah perempuan. Kayla tumbuh menjadi gadis dengan pribadi yang sangat tertutup. Dia jarang tersenyum, tapi juga jarang marah. Bahkan dia seperti tidak punya ekspresi apapun di wajahnya. Hatinya terlalu terluka. Tubuhnya pun kini terluka permanen karena sabitan ikat pinggang ayahnya di wajahnya.
Kanya pun seolah mengikuti jejak kakaknya untuk tidak perduli. Hanya terpaut dua tahun dari Kayla, tapi tingkahnya sudah sembrono dengan jarang pulang kerumah walaupun waktu pulang sekolah sudah lewat beberapa jam. Aku mengerti dengan keengganan Kanya pulang kerumah yang sudah seperti neraka baginya. Sundutan rokok ayahnya telah sering dia terima karena kenakalannya hingga para guru di sekolahnya memanggil orang tuanya, atau para guru menskornya.
Apalagi dengan Fani yang memang paling kritis dibandingkan saudara-saudaranya yang lain. Masih saja dia menginginkan perceraian ayah bundanya jika pertengkaran demi pertengkaran diantara kami tidak berhenti. Tapi Fani adalah anak paling manis diantara anak-anakku. Dialah yang selalu membawa adik-adiknya, Vanisa dan Maura untuk pergi menjauh jika kami sudah mulai bertengkar. Dia juga yang akan mengambil paksa mp4 milik kakak-kakaknya untuk dipasangkan pada telinga kedua adiknya dengan musik sekeras mungkin hingga mereka tidak mendengar apapun dari pertengkaran kami. Fani sangat pintar hingga dia bisa menghindari ayahnya memuntahkan kemarahan ditubuhnya. Fani selalu aman dari jangkauan ayahnya karena dia nyaris tidak pernah berbicara ataupun bertatap muka dengan ayahnya.
Akupun merasakan lelah yang sama seperti kelima anakku. Aku heran dengan Mas Rafli yang menyalahkanku karena tidak mempunyai anak laki-laki. Aku toh lebih berharga dibandingkan perempuan lain yang disalahkan karena tidak mampu memberi anak.
Aku ingin sekali berontak ketika tubuh ini penuh dengan tapak tangan Mas Rafli, atau ikat pinggang Mas Rafli, atau benda-benda yang sanggup dijangkau oleh Mas Rafli.
Seolah Mas Rafli tidak puas menyiksaku, malamnya dia akan memperkosaku dan terus-terusan mengancamku untuk memberinya anak laki-laki.
Mungkinkah Lasmi juga diperlakukan seperti ini ketika selama satu tahun membina rumah tangga siri dengan Mas Rafli?
Aku ingin lari dari Mas Rafli. Tapi aku takut dengan nasibku kelak. Aku hanya perempuan tamatan SMP yang tidak pernah bekerja karena keburu dinikahi oleh Mas Rafli. Apalagi dengan kelima anakku yang masih butuh dukungan kedua orang tuanya.
Aku tidak berdaya.
***
Kulihat bayi mungil disampingku. Dia bayi yang paling cantik yang pernah kulihat. Kulitnya putih bersih. Rambutnya hitam bergelombang dan tebal. Bibirnya merah seperti buah delima. Matanya besar seperti dalam animasi Jepang. Tapi sayangnya dia perempuan. Dia tidak akan mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Bahkan suara azanpun tidak dilantunkan ditelinganya.
Kasihan kamu nak. Kasihan karena dilahirkan menjadi perempuan. Kasihan sekali karena kelak kamu akan mendapatkan perlakuan tidak baik dari ayahmu yang tidak menginginkanmu menjadi perempuan.
Aku tidak ingin dia merasakan apa yang dirasakan kakak-kakaknya. Aku tidak ingin dia menderita. Bagaimana caranya? Bagaimana caraku untuk melindunginya?
Ah. Aku tahu. Aku tahu bagaimana caranya aku bisa melindungi anakku. Anakku tidak boleh merasakan pahitnya dunia. Anakku tidak boleh merasakan tapak tangan dari ayahnya seperti aku dan kakak-kakaknya atau bahkan merasakan ditinggalkan seperti Lasmi, ibu tirinya dan Nina, anak ayahnya dari Lasmi. Jadi anakku harus kembali ke tubuhku. Dia harus kembali dalam perlindungan tubuhku. Cukup aku saja yang merasakan pedih dan perihnya siksaan karena aku perempuan yang hanya bisa menghasilkan anak perempuan.
Aku memasukkan kembali anakku yang belum bernama kedalam tubuhku. Aku merasakan manisnya dagingnya dalam mulutku dan manisnya perlindunganku terhadap tubuhnya. Aku merasakan tenteram karena sudah menyelamatkan anakku. Dan kini aku lelah karena semua tenagaku untuk melindunginya sudah habis. Aku hanya ingin tidur. Tidur dan besok ketika aku terbangun, anakku sudah kembali aman dalam tubuhku. Aku sayang kamu anak perempuanku.