Bang Ican

April 23, 2008 at 6:49 am (Cerpen) (, , )

Sudah waktunya Bang Ican pulang. Sudah jam sepuluh malam, tapi dia belum juga menampakkan batang hidungnya. Percuma saja kusiapkan sayur asem dan tempe goreng kesukannya, Bang Ican tidak pernah memakannya dalam keadaan ‘fresh from the oven’.

Bang Ican belakangan ini selalu pulang malam. Yang ada pengajianlah, bantu-bantu temannya pindahanlah, menghadiri temu mualaflah. Aku sudah benar-benar bosan dengan kegiatan-kegiatan Bang Ican.

Aku paham dengan kebutuhan teman-teman Bang Ican akan kehadiran dirinya yang salafiy*, tapi ini sudah keterlaluan karena Bang Ican meninggalkan istrinya sendirian di rumah yang baru saja kami tempati kemarin, dalam keadaan hamil muda pula.

‘Duh Bang, dimana, sih kamu? Sudah susah payah aku masak dan menahan mualku ini, tapi lagi-lagi kamu gak makan.’

Teng. Teng. Teng. Suara tiang listrik dipukul oleh para peronda. Jarum jam kecil di meja nakas* tempat tidur kami menunjukkan angka tiga. Rupanya aku tertidur ketika menunggu Bang Ican pulang. Sudah jam tiga pagi tapi Bang Ican belum juga pulang.

Kini aku benar-benar bingung. Bang Ican tidak biasanya seperti ini. Aku coba cek henponku siapa tahu Bang Ican menelepon. Tapi tidak ada telpon masuk dalam henponku. Sengaja aku letakkan henpon dekat dengan kupingku agar jika Bang Ican telepon atau sms, aku akan langsung mendengarnya. Ini juga karena di rumah yang baru ini belum ada sambungan telepon. Tapi bahkan Bang Ican pun tidak mengirim sms.

‘Bang, Nisa takut, Bang. Kamu dimana, sih?’ Suara-suara malam benar-benar membuat bulu kudukku merinding. Aku memang baru belajar hidup mandiri setelah empat bulan menikah. Tapi aku tidak menyangka aku akan setakut ini sendirian dirumah.

Ada saja pikiran jelek melintas di kepalaku. Aku masih bisa mengingat ketika Mbak Retno, kakak tertuaku, ditinggal pergi tugas oleh Mas Arvi di rumah dan ternyata ada rampok masuk ke dalam rumahnya. Mbak Retno sih tidak terlalu panikan seperti aku, dan juga dia pintar membela dirinya dengan pengalaman seumur hidupnya akrab dengan Aikido*. Ditambah lagi ada Mas Genta, adik kandung suaminya. Sedangkan aku? Ada kecoa terbang saja aku lari dan berteriak-teriak seperti ada pemerkosa mengejarku.

‘Pemerkosa! Bang, gimana kalo aku diperkosa waktu kamu ga ada? Bang, pulang dong, Nisa bener-bener takut nih.’ Dan pikiranku terus saja melayang-layang pada adegan laki-laki yang mengejar-ngejarku karena ingin memperkosaku seperti yang aku sering lihat di tv.

Brakk! Meong. Aku kaget setengah mati oleh suara keras di depan rumahku dan suara kucing mengeong yang menjadi sangat mengerikan di telingaku. Aku tidak berani keluar. Bahkan aku tidak berani bergerak dari posisi tidurku ini. Aku semakin menarik selimut untuk menutupi tubuhku. Mataku tidak berani kupejamkan, takut akan ada makhluk halus atau makhluk kasar berhati makhluk halus yang ingin berbuat jahat pada diriku. Aku masih saja tidak bisa menyingkirkan pikiran-pikiran masa kecilku tentang makhluk-makhluk yang bersembunyi di bawah tempat tidur dan di dalam lemari, juga tentang psikopat yang ingin memperkosa atau membunuh demi kesenangan.

Bayang-bayang kelam di dinding kamar tidur kami seolah-olah mengejekku. Suara-suara malam terus saja menggodaku. Tik. Tak. Tik. Tak. Bahkan suara jarum jam berdetakpun seperti ingin menghantuiku.

Kucoba lagi mendial henpon Bang Ican. Tapi si Veronica yang menjawab. Aku menjadi kesal pada Veronica yang selalu setia menjawab henpon-henpon yang kehabisan baterai, atau kelamaan tidak diangkat pemiliknya, atau henpon yang diluar jangkauan jaringan provider.

‘Bang…tolong Nisa, Bang. Nisa gak mau sendirian lagi di rumah. Nisa janji deh Nisa gak akan belagu gak pake khadimat*. Besok Nisa nurut deh sama Bang Ican buat cari khadimat biar Nisa gak sendirian kayak gini. Bang pulang dong, ato enggak nyalain kek henponnya, ato pinjem henpon temen Bang Ican.’

Aku tahu henpon Bang Ican kehabisan baterai. Tadi pagi ketika Bang Ican pergi, baterai di henponnya tinggal setengah. Dan tentu saja dalam hitungan jam baterai henpon Bang Ican akan habis karena tiap satu jam aku selalu meneleponnya.

Tiap jam? Kini aku sadar aku terlalu manja. Tapi aku benar-benar tidak mengerti harus bagaimana dengan rumah baru ini. Yah aku memang berkeras tidak menggunakan khadimat, itu agar aku tidak lagi manja seperti ketika masih di rumah Ibu. Dan bukan salah aku juga kalau aku ingin mengatur rumah mungilku ini sendirian. Biar ada kesan ‘The Touch of Nisa’ di rumah kami.

Teng. Teng. Teng. Teng. Lagi-lagi aku kaget karena suara mengerikan tiang listrik dipukul oleh para peronda. Di daerah rumah baru kami ini ada kebiasaan memukul tiang listrik setiap jam, dimulai jam duabelas malam dan berhenti jam lima pagi. Dan jumlah pukulannya itu sesuai dengan jam berapa saat itu. Bayangkan ketika tepat jam duabelas malam tiang listrik itu dipukul.

Sudah jam empat pagi. Dan Bang Ican belum juga mengetok pintu, mengucapkan salam dari suaranya yang berat. Lalu dia akan mencium keningku dan bermanja-manja minta dipijat karena kelelahan. Terkadang Bang Ican tidak meminta apa-apa selain bersandar di pahaku dan tertidur pulas. Aku sangat mencintai Bang Ican yang tidak akan marah jika aku belum masak karena aku belum terampil memasak dengan cepat dan sempurna, malahan dia akan tersenyum ramah dan mengajakku makan mie ayam wiling di depan komplek rumah orang tuaku.

Pikiran indah tentang Bang Ican sejenak membuatku melupakan ketakutanku. Tapi bayang-bayang kelam dan suara-suara malam tetap menghantuiku. Aku masih tidak berani bergerak. Bahkan aku rela menahan rasa ingin buang air kecil dan mual. Aku benar-benar kaku dibalik selimutku. Ruangan kamar kami dilengkapi pendingin tetapi tubuhku panas dan berkeringat. Perempuan hamil memang suhu tubuhnya lebih panas dari biasanya, tetapi panas yang kurasakan bukan karena janin dalam rahimku, tapi karena kegiatan jantungku yang berdetak lebih cepat karena takut.

Teng. Teng. Teng. Teng. Teng. Sudah pukul lima. Azan Subuh sudah berkumandang sejak setengah jam yang lalu. Bang Ican tetap belum pulang. Dan aku tetap tidak berani untuk beranjak dari posisi tidurku.

‘Aku harus Sholat Subuh. Harus. Tapi aku takut. Bang, gimana dong? Biasanya kan kamu yang nemenin Nisa Wudhu.’

5.30. Jam kecil di meja nakas terus bergerak. Aku terus merasa bersalah karena belum Sholat Subuh. Akhirnya aku beranikan beranjak dari tempat tidurku dan ke kamar mandi untuk berwudhu. Aku tahu ini sangat terlambat untuk Sholat Subuh. Tapi aku membutuhkan Sholat untuk menenangkanku karena mengkhawatirkan Bang Ican.

Sudah jam enam pagi. Waktunya aku benar-benar mencari Bang Ican. Toh Masjid Al-Iman tempat Bang Ican semalam pergi tidak terlalu jauh dari rumah. Kukenakan jilbab sekenaku, menyambar dompet, henpon dan kunci mobil, aku tidak perduli larangan mengemudi mobil sendiri bagi perempuan hamil, seberapa jauhpun akan kubawa mobil demi Bang Ican. Kubuka pintu rumah dengan tergesa-gesa. Dan aku terkejut dengan pemandangan di depan pintu rumahku.

“Bang Ican, Astaghfirullah, Bang ko tidur disini?” kubimbing Bang Ican masuk kerumah. Dia masih terlihat belum benar-benar sadar dari bangun tidurnya.

“Bang kok tidur disitu sih? Nisa kan semaleman nungguin, Abang, kenapa Abang gak ngetok pintu ato telepon Nisa gitu. Abang pulang jam berapa? Kenapa gak nelepon Nisa ato sms?” Bang Ican kuberondong dengan banyak pertanyaan. Gemas aku karena yang ditanya hanya tersenyum.

“Abang pulang jam satu, Nisa. Abang ngetok kok, tapi mungkin Nisa gak denger Abang. Trus henpon Abang kan lowbat, mana bisa nelepon, wong dinyalain aja gak bisa. Ya emang Abang salah sih gak ngetok lagi, tapi Abang kasian sama Nisa, jadi aja Abang tidur di teras deh. Kan Abang ngikutin Nabi Muhammad yang gak keberatan tidur diluar gara-gara Aisyah gak denger Rasulullah ngetok pintu. Itu kan tipe suami idaman Nisa?”

Penjelasan lembut dan panjang lebar dari Bang Ican membuatku malu. Aku sadar pipi tembamku memerah. Dan aku menjadi malu karena tidak mendengar suara mendengkur Bang Ican karena terlalu takut semalaman, padahal suara mendengkur Bang Ican sangat keras yang seharusnya aku bisa mendengarnya jika aku tidak terlalu paranoid dengan semua bayangan kelam dan suara malam.

Bang Ican juga begitu baik karena berusaha menjadi suami idaman seperti yang aku gambarkan dulu sebelum kami menikah. Tentang pribadi Nabi Muhammad S.A.W yang diidamkan semua perempuan untuk menjadi suaminya. Padahal aku tahu, sebenarnya Bang Ican pasti akan menggerutu jika harus tidur di teras yang keras dan dingin.

Tidak terasa air mata mengalir deras dari kedua mataku. Aku begitu bersalah pada Bang Ican dan aku begitu bersyukur karena memiliki suami seperti dia.

“Maafin Nisa ya, Bang”
“Gak papa Nisa.” Senyum itu terus saja terukir di bibirnya. Tapi tiba-tiba senyum itu pudar dan berganti dengan cemberut.
“Ya udah, sekarang bikinin Abang air panas dong, Abang mo mandi nih. Lagian kamu ngapain aja sih semaleman sampe gak denger Abang ngorok padahal kamu biasanya suka ngambek kalo abang ngorok.”

Kali ini aku tidak tersinggung dengan marahnya Bang Ican. Aku segera menyiapkan air mandi Bang Ican. Membuatkan teh manis panas kesukaan Bang Ican lengkap dengan biskuit coklat sebagai teman minum tehnya. Dan tidak lupa kucium bibir Bang Ican.

“Dasar nakal.” Senyuman Bang Ican kembali terukir karena ciumanku.

end
***
Salafiy: Orang yang berusaha menjalankan agama dengan metode atau cara berislamnya as-salafush-shalih, yang terdiri dari para sahabat –radhiyallahu’anhum-, dan generasi setelahnya, dan generasi setelahnya yang dipuji Rasulullah –shallallahu’alayhi wa sallam- sebagai generasi terbaik Islam

Nakas: Meja kecil disamping tempat tidur; biasanya diletakkan lampu baca, telepon atau hiasan meja.

Aikido: Seni bela diri dari Jepang yang mencari titik kelemahan dari lawan sehingga membuat lawan labil tanpa harus menyakiti secara fisik.

Khadimat: Asisten rumah tangga

1 Comment

  1. budakpulau said,

    Salam kenal..numpang lewat.

Post a Comment