Diatas Jembatan Melengkung

April 23, 2008 at 6:43 am (Cerpen) (, , )

Jembatan melengkung itu masih terlihat indah walaupun usianya sudah melebihi usia Kakek. Aku dulu sering bermain disana. Bersama Edo dan Bernard. Aku dulu suka merenung disana. Bersama Edo dan Bernard. Aku dulu suka berpiknik disana. Bersama Edo dan Bernard.

Disana kami bertiga sering menghabiskan waktu hingga hampir Magrib dan ibu-ibu kami menyuruh kami pulang. Jembatan itu melengkung, menghubungi desa kami dengan desa sebelah kami yang terpisah oleh sungai yang airnya jernih. Di ujung jembatan ada sebuah rumah reyot milik Aki Jana dan kucing-kucingnya. Aki Jana hidup sendirian. Tidak ada yang tahu pasti berapa umurnya. Tapi biasanya anak-anak kecil seumuran kami akan takut padanya yang berpenampilan nyentrik seperti dukun teluh. Suka memakai pakaian hitam dengan kalung dari tulang-belulang. Kata orang-orang di desa, Aki Jana suka berburu apa saja dan mengabadikan tulang-belulang hasil buruannya dan dijadikan aksesoris.

Tapi kami tidak takut. Kami mencintai jembatan melengkung itu hingga kami bisa mengacuhkan keberadaan Aki Jana dan kucing-kucingnya. Dan kenyataannya Aki Jana tidak pernah mengusir kami atau mengganggu kami, dia membiarkan kami walau seribut apapun kami bermain.

Kami sangat menyukai pemandangan senja di jembatan melengkung itu. Aliran sungai yang tidak deras, makhluk-makhluk sungai yang misterius, suara jangkrik yang akan muncul menjelang malam, perahu-perahu reyot yang ditalikan di pinggir sungai. Pepohonan rindang yang memberikan kesejukan, bunga-bunga liar berbagai warna, semburat oranye yang menghantarkan senja, bahkan suara mengeong kucing-kucing Aki Jana juga pemandangan mengerikan rumahnya yang di dominasi oleh warna hitam dengan aksesori-aksesoris rumahnya yang bergantungan yang terbuat dari tulang-belulang.

Edo dan Bernard dulu sering meloncat dari jembatan untuk berenang. Mengejar ikan-ikan kecil, menangkapnya dan kemudian melepaskannya kembali ketika ikan-ikan itu mulai megap-megap kehabisan napas. Dan aku hanya akan menunggu mereka dengan bekal makan siang dalam keranjang bambuku, pisang goreng buatan Ibu dan teh manis panas dalam termos.

Aku suka memetik bunga-bunga liar dipinggiran sungai, merangkainya menjadi kalung atau tiara. Aku suka berkhayal bahwa aku seorang putri raja yang memakai tiara, atau seorang peri kecil dengan kalung bunga yang indah. Aku tidak pernah bosan merangkai bunga-bunga itu sambil sesekali bercanda dengan Edo dan Bernard yang sangat suka berenang.

Bernard selalu menjahili ku dengan menarik-narik rambut keriting sebahuku. Kata Bernard, rambutku lucu seperti boneka Belanda. Bernard juga suka mengagetkanku agar dia bisa melihat mata bulatku makin membola. Dia sering menyembunyikan sandal merah mudaku tapi akan mengembalikannya lagi karena aku ternyata tidak mencarinya. Aku tahu dia akan menyembunyikannya dan aku tidak terlalu suka dengan sandal merah mudaku karena aku suka bertelanjang kaki menikmati lantai jembatan melengkung dan menikmati tanah di pinggiran sungai. Tapi Bernard akan mengulangi hal yang sama setiap hari, menyembunyikan sandal merah mudaku dan mengembalikannya dengan tampang malu-malu.

Edo anak yang dewasa untuk seumurannya. Edo jarang menjahiliku kecuali jika aku sudah mulai cemberut oleh kelakuan Bernard. Edo akan mendukung Bernard agar dia bisa melihat lebih lama lagi pipi tembamku. Dia akan tertawa paling keras jika Bernard menjahiliku tapi akan menjadi yang paling lembut jika sudah ada air mata di kedua pelupuk mataku. Edo memang suka pada pipi tembamku, tapi dia akan membujukku untuk mengeluarkan bolong di pipiku alias dia menyuruhku tersenyum agar kedua lesung pipiku terlihat. Edo juga seorang anak yang pemberani. Dia akan maju paling pertama jika ada anak yang menjahili aku atau Bernard. Sering sekali mereka berdua pulang dengan badan lecet dan berdarah-darah sehabis berantem.

Aku merindukan Edo dan Bernard. Aku merindukan pertemanan mereka. Aku merindukan canda tawa mereka. Aku merindukan teriakanku yang mendukung mereka lomba lari, atau lomba berenang, atau lomba menangkap ikan-ikan kecil. Aku merindukan mereka yang dengan takut-takut meletakkan pisang goreng buatan Ibu di depan pintu Aki Jana. Aku merindukan mereka yang suka menjahili kucing-kucing Aki Jana tapi sering memberikan ikan-ikan yang mereka tangkap pada kucing-kucing itu.

Tapi kini tidak ada Edo dan Bernard. Tidak ada permainan. Tidak ada perenungan. Tidak ada piknik dengan pisang goreng dan teh manis panas dalam termos.

Aaaaaaaaaaaaaa. Aku berteriak sendiri. Tanpa Edo dan Bernard. Aku menangis semdiri tanpa Edo dan Bernard. Aku bermain sendiri tanpa Edo dan Bernard.

Terkadang aku bertanya, kenapa dewasa datang menjemput? Kenapa perasaan cinta bisa memisahkan tiga orang sahabat? Kenapa? “Why can’t we be, like story book children?” Lagu itu selalu mengalun di kepalaku. Terkadang pelan dan syahdu, terkadang kencang dan menghentak.

Cinta. Sebuah kata agung yang sangat tidak ingin aku dengar sekarang ini. Tidak sejak kata itu menghancurkan persahabatan kami.

Aku cinta kamu, Edo. Aku sangat mencintai kamu. Aku tidak tahu bahwa ternyata perasaan hatiku justru mengantarkanku pada dendam Bernard yang membunuhmu. Aku bahkan masih belum tahu ketika aku rela menggantikan posisi Bernard di samping tubuh berdarahmu, Edo.

Aku sayang kamu, Bernard. Kamu akan selalu menjadi ‘My Polar Bear’. Aku tidak mengerti kenapa aku begitu naif akan perubahan sikapmu terhadap Edo. Aku tidak bisa seperti kamu yang bisa membaca rasa hatiku yang tertarik pada Edo. Aku juga tidak bisa mengerti kenapa kamu tiba-tiba datang di ruang pengadilan untuk menangguhkan hukuman bagiku dan mengakui semuanya.

Kini aku sendiri. Di atas jembatan melengkung ini. Benar-benar sendiri. Tanpa Edo dan Bernard. Tanpa perahu-perahu reyot sejak jembatan ini diperbaharui. Tanpa suara-suara jangkrik yang menjadi tersingkir karena keramaian kedua desa yang terhubungi oleh jembatan melengkung ini. Tanpa kehadiran makhluk-makhluk misterius sungai. Tanpa semuanya. Bahkan Aki Jana dan kucing-kucingnya pun sudah tidak ada lagi. Di atas jembatan melengkung, yang usianya melebihi usia Kakek.

Post a Comment