Drama Tiga Hati

April 23, 2008 at 6:45 am (Cerpen) (, , )

Aya
Aku mencintainya. Aku menginginkannya. Tapi apakah dia menginginkanku? Tidak, tentu saja tidak.

Aku hanyalah seorang Soraya. Gadis biasa yang jatuh cinta. Sedangkan dia adalah Silwan, pria yang ketampanannya mampu menyilaukan setiap mata yang memandangnya.

Silwan
Aya mencintaiku. Aku tahu. Aku merasakannya. Tapi apa dayaku. Aku tidak bisa menyatukan rasaku dengan rasanya. Hanya untuk satu orang rasaku bersatu.

Pernikahan kami akan segera dilangsungkan. Aku dan Aya. Aku yang memilih Aya untuk menjadi istriku. Tradisi Arab mengharuskan aku menikahi seorang wanita Arab juga. Hanya Aya yang mengerti keadaanku. Hanya Aya yang menerima kekuranganku.

Lukman
Kabar gembira dari Pak Dito untuk mempromosikanku sebagai pilot tidak bisa menyenangkanku karena hari ini adalah hari pernikahannya. Aku bahkan menghancurkan ipodku karena dia memutar “Friday I’m in love”. Hari ini Jumat, tapi aku tidak sedang jatuh cinta, aku justru sedang patah hati karena setelah janji yang diucapkan dalam akad nikah itu siang ini, akan menjadikan dia milik orang lain.

Aya
Seharusnya aku bahagia karena aku bisa menjadi istrinya. Tapi hatiku tetap perih mengetahui bahwa alasan dia memilihku hanya karena keturunanku yang Arab murni. Hanya karena pikirnya aku menerima keadaannya. Hanya karena pikirnya aku adalah gadis berhati besar dan mulia. Dan bodohnya aku, memang itulah kebenarannya.

Aku tidak ingin menjadi malaikat penolongnya, tapi aku tidak bisa menolak kehormatan untuk menjadi istrinya. Dan aku terlalu mencintainya, bahkan untuk mengorbankan seluruh hidupku untuk menjadi istrinya tanpa memiliki hatinya.

Dalam pesta pernikahan kami, semua mata wanita memandang iri kepadaku. Iri pada gaun hijau lembut hadiah darinya. Iri pada jilbab penuh kerlip menutup sempurna rambutku. Iri pada keberadaanku bersanding dengannya. Tapi tidak ada yang tahu, justru aku iri terhadap semua tamuku. Iri karena hanya menjadi penonton, menjadi penikmat, dalam drama hidupku yang menyakitkan.

Aku hanya berharap Lukman datang untuk menolongku. Menyadarkanku bahwa menjadi istri Silwan hanya akan lebih menyakitkan hatiku. Hanya akan membuatku sengsara, karena Silwan tidak akan pernah mencintaiku. Tapi Lukman tidak datang kemarin. Lukman mengabaikan permintaanku untuk mencegahku. Aku terlalu berharap Lukman yang juga patah hati akan pernikahanku dengan Silwan akan mampu mengerahkan semua keberaniannya untuk menghentikanku dan Silwan mengikat hidup kami.

Lukman
Dengan berat hati akhirnya aku datang. Dengan sakit yang menyayat hati akupun menyaksikannya bersanding di pelaminan.

Dia begitu indah. Warna hijau membuat kulit putihnya sangat bersinar. Kerlip indah di baju pengantinnya membuat mata jernihnya lebih kemilau.

Entah hanya karena perasaan tertekanku saja, tapi aku merasa semua orang tertawa akan kekalahanku. Semua orang seolah mengejek kebodohanku. Ketika aku bersedih, seolah seluruh dunia juga bersedih. Padahal semua orang disana tidak ada yang mengetahui siapa aku, apa hubunganku dengan mempelai.

Aku tidak sanggup lagi. Aku hanya cukup menjabat tangannya dan mengucapkan selamat. Semua sudah terlambat. Aku seharusnya datang kemarin disaat mereka belum melangsungkan akad nikah mereka.

Silwan
Aku tahu Aya menginginkan Lukman untuk menolongnya. Aku tahu walaupun Aya mencintaiku, tapi dia nyaris tidak bisa berdiri mengorbankan dirinya untuk diriku. Aku tahu kemarin lusa Aya putus asa menelepon Lukman untuk datang dan mengakui isi hati Lukman kepada seluruh keluarga kami. Aku tahu. Tapi lagi-lagi aku tak berdaya.

Aku tidak seberani Aya yang berusaha sekuat tenaganya untuk membahagiakanku. Untuk membuatku mengejar cintaku.

Aku tidak mencintai Aya. Aku hanya mencintai dia. Walaupun aku menyayangi Aya, menghormati pengorbanan Aya, tapi sesuatu dalam diriku tidak bisa dibohongi.

Aku hanya bisa menatap Lukman dalam ketidakberdayaanku karena akupun berharap hal sama seperti Aya. Aku berharap Lukman akan menolongku. Aku berharap Lukman bisa bersikap jantan dengan mengakui isi hatinya. Tapi Lukman hanya diam. Aku bisa merasakan kalau hatinya terlalu sakit bahkan untuk bicara. Karenanya dia diam.

Akhirnya aku hanya mencoba terlihat bahagia. Aku harus kuat. Aku tidak boleh menunjukkan kelemahanku. Aku harus berjuang untuk Aya. Wanita yang telah mengorbankan dirinya untuk aku. Wanita yang bahkan meminta orang yang aku cintai untuk menolongnya sekaligus membahagiakanku. Wanita yang memiliki hati mulia untuk laki-laki yang mencintai orang lain.

Post a Comment