Kutemukan Syukur

April 23, 2008 at 6:40 am (Cerpen) (, )

Kembali ku pandangi semua reruntuhan bangunan di depanku. Tapi bukan hanya satu bangunan, banyak bangunan semi permanen kini telah hancur berantakan. Buldoser2 perkasa sudah melaksanakan tugasnya. Selain puing2 sisa bangunan, masih bisa kulihat wajah2 kelelahan.

Sebagai fotografer, akupun tidak kalah lelah dengan berjuta ekspresi di sekitarku. Aku terduduk lemah. Liputan pertamaku ini membuatku lelah luar biasa. Lapar dan haus menderaku. Penjual makanan dan minuman menuai rejeki dari penderitaan orang2 ini, penggusuran lahan di bantaran kali.

Naluri wartawanku tergerak untuk sekedar berbincang dengan orang2 disekitarku. Ada seorang bapak setengah baya mencoba mengumpulkan puing2 ‘rumah’nya.

“Assalamualaikum, Pak. Bisa saya Bantu?”
“Waalaikumus salam. Oh, boleh, boleh dek. Kebetulan saya lagi nyari kotak antik saya nih, dek. Bisa tolong carikan?” logat Jawa medoknya menjawab sapaanku ramah.
“Kaya gimana ya Pak bentuknya?”
“Ya kotak biasa, dek. Ada ukiran2ne gitu lho.”
“Oh, iya pak, saya coba cari. Memangnya itu kotak apa ya, Pak, kalo saya boleh tau, sepertinya penting banget, kotak perhiasan ya, Pak?”
“Oh bukan, dek. Kotak itu isine hanya foto2 saja. Foto2 jaman saya muda dulu sama bune.” Senyum malu2 dan tatapan menerawang ke masa lalu terlihat olehku.

Aku pun tidak kuasa menahan senyum. Ternyata bapak ini romantis juga, masih menyimpan foto2 masa mudanya bersama sang kekasih hati. Aku jadi teringat akan Maya, kekasih hatiku yang setia menungguku di Bandung sana.

“Waduh, kalo semisal kotaknya ndak ketemu piye iki ya dek? Bune musti marah sama aku?” ekspresi bingung tergambar jelas di matanya.
“Ya kan bapak tinggal jelasin keadaan sebenarnya sama istri bapak kalo memang ga bisa ketemu pak.”
“Ya ndak bisa, dek”
“Lho kenapa, Pak?” aku membayangkan istri si bapak dengan tubuh tambun memakai daster dengan banyak perhiasan di leher, tangan dan jarinya mengamuk pada bapak kurus ini.
“Bune udah meninggal dua tahun lalu, dek.” Suaranya melemah dan aku tertunduk malu mengingat khayalanku tadi. Dan cerita pun mengalir.

Istri dari Pak Teguh meninggal karena kangker payudara. Pak Teguh tidak bisa memiliki anak. Gara2 kecelakaan sewaktu mudanya membuat beliau steril. Istri Pak Teguh tetap mencintai Pak Teguh apa adanya walaupun pernikahan mereka tidak bisa menghadirkan seorang anak. Orang tua istri Pak Teguh tentu menentang pernikahan mereka, tapi sepertinya cinta sudah terlanjur mengakar di hati kedua insan muda itu. Mereka pun kawin lari dan menetap di Jakarta dengan kondisi seadanya.

Karena tidak memiliki anak, istri Pak Teguh harus menanggung resiko dari perempuan yang tidak pernah melahirkan dan menyusui, kanker payudara. Karena ketidakmampuan mereka, penyakit istri Pak Teguh tidak ditangani oleh professional hingga akhirnya merenggut nyawa beliau dalam hitungan bulan saja.

Dan pernyataan Pak Teguh soal kemarahan istrinya, hanyalah satu pernyataan tentang bagaimana tetap menghidupkan kenangan orang tercinta dalam hati dan hidupnya walaupun dia sudah meninggal.

“Satu2nya barang berharga saya ya kotak itu dek.”
“Lho bukannya yang tadi itu ada televisi punya Pak Teguh?” aku mengingat seorang ibu muda yang menginformasikan soal televisi Pak Teguh yang sudah diamankan oleh petugas.
“Walah, itu kan cuman televisi, rusak ato hilang ya tinggal ganti. Lha kalo kotak saya? Ndak akan terganti kan, dek.” Senyum pahit tergambar jelas di wajahnya.

Kenangan. Selalu menjadi hal paling berharga bagi manusia. Seperti kenanganku bersama Maya. Maya yang anggun, Maya yang penyayang, Maya yang manis dan lucu, Maya yang perasa dan lembut. Kembali kuteringat akan kekasihku, masa depanku.

“Sudah berapa lama tinggal disini, Pak?”
“Ya sejak menikah itu, dek”
“Wah lama juga ya, Pak. Sekarang rencananya Bapak mau tinggal dimana?”
“Kayanya saya mau pulang kampung saja, dek. Yah, saya mau kelola sawahnya Pak Kades saja.”
“Lho memangnya bapak nggak dapet ganti rugi dari pembongkaran ini?”
“Ganti rugi apa dek? Lha wong saya hanya penduduk gelap. Ini kan tanahnya pemerintah. Kalo pemerintah mau pake tanah ini ya mau gimana lagi saya?”
“Ya kan bapak sudah lama tinggal disini”
“Ya ndak bisa gitu dek. Saya sadar saya hanya numpang. Pemerintah sudah begitu baik sama saya ngebolehin saya tinggal disini selama ini. Nah kalo sekarang pemerintah mau membersihkan tanah ini ya saya ndak boleh protes. Lagian pemerintah bener, dek. Kalo kami terus tinggal disini bisa bahaya. Bahaya banjir, bahaya penyakit, bahaya longsor.” Jawabnya panjang lebar.

Lagi2 aku tertunduk malu akan kebesaran hati Pak Teguh dan pandangan sederhananya tentang kejadian ini. Aku makin tertarik untuk berbicara lebih banyak dengan bapak ini.

“Terus gimana tadi perlakuan polisi2 nya, pak?” aku makin penasaran dengan komentar Pak Teguh akan polisi2 kita dan jeleknya rumor tentang kekasaran polisi pamong praja.

“Ya mereka baik ko sama kita. Memangnya kenapa nanya soal itu, dek?”
“Yah, kan biasanya polisi pamong praja suka kasar, pak. Mereka suka seenak-enaknya ngebentak-bentak. Suka seenaknya ngebongkar paksa. Bener2 gak manusiawi.” jelasku geram mengingat tingkah polah para polisi2 itu.

“Mereka ndak kasar ko, dek. Lha wong sampe sekarang saya dan warga sini ndak pernah dikasari ko. Mungkin mereka seperti itu karena warganya saja yang ndak sadar dan ngeyel. Ini kan tanah pemerintah tapi sudah merasa berhak memiliki. Kebanyakan warga juga yang mulai, dek. Mereka suka meludahi bapak2 polisinya dan mereka juga suka main pukul nyalahin bapak polisi. Kan kasihan juga dek bapak2 polisi itu. Mereka kan cuman njalanin tugas aja dari pejabat. Mereka juga capek, gajinya kecil, resikonya gede untuk dijadiin kambing hitam atas semua penggusuran ini”

Makin kagum aku oleh kebijaksanaan bapak ini. Dan cakrawala berpikirku makin luas. Aku sadar sebagai wartawan sekaligus fotografer seharusnya aku lebih banyak melakukan pembicaraan seperti ini. Aku sadar dengan sikap idelaismeku selama di kampus yang cenderung menyalahkan pemerintah akan nasib rakyat kecil yang terkena gusuran seperti ini. Ternyata prestasiku yang cepat mendapatkan kerja begitu lulus dari universitas justru menjadi ketidaktahuanku akan dunia nyata, sekaligus gambaran akan ketidaksiapanku menghadapi kehidupan.

“Wah ketemu, Alhamdulillah Gusti Pangeran.” Tiba2 Pak Teguh berseru kegirangan demi melihat kotak lusuhnya. Dan Pak Teguh langsung melaksanakan sujud syukur di tanah. Aku tertegun melihat sujud syukur yang dilakukan Pak Teguh. Sekian banyak sudah kulakukan sujud syukur atas nilai2ku yang bagus, atas keberhasilanku menjuarai lomba fotografi, atas kelulusanku yang menempati posisi tertinggi, atas anggukan kepala Maya yang menerima lamaranku, atas…ah, begitu banyak, tapi tidak pernah aku melakukannya seperti yang Pak Teguh lakukan.

Beliau menyentuh tanah seperti beliau menyentuh tanah suci. Beliau bersujud sambil menangis haru seperti menemukan kenyataan bahwa istrinya bisa kembali lagi kepelukannya. Beliau seolah-olah memeluk tanah. Tanah airnya. Tanah kelahirannya.

Sambil menyeka air matanya, beliau menyalamiku dan mengucapkan banyak terima kasih.

“Lho, pak, ko terima kasih sama saya? Kan Bapak sendiri yang nemuin kotaknya.”
“Ya saya terima kasih sama adek yang sudah mau berusaha mencarikan kotak saya. Jarang lho ada anak muda yang sudah kelelahan seperti adek tadi yang mau membantu saya cuma untuk mencari kotak jelek koyo ngene.” Senyum tulusnya mengembang.

“Ketemu kotaknya Pak?” seorang bapak bertubuh besar dengan logat Batak yang kental mengagetkanku.
“Alhamdulillah ketemu Pak Tagor, terima kasih ya sudah mbantu saya mencarinya” lembut Pak Teguh menjawab pertanyaan bapak bernama Tagor itu.
“Puji Tuhan kalo sudah ketemu. Aku ini masih mencari Alkitab peninggalan Tulang aku.” Jawabnya lemas.
“Pak Tagor, ini Alkitab Bapak bukan?” Tiba2 seorang perempuan berseru kepada Pak Tagor. Refleks Pak Tagor berlari menyongsong perempuan bertubuh mungil itu.
“Puji Tuhan, terima kasih uni, terima kasih” Seperti Pak Teguh, Pak Tagor berterima kasih sambil matanya berkaca-kaca. Dan perempuan yang di panggil uni hanya tersenyum malu2 atas ucapan terima kasih dari Pak Tagor yang sepertinya berlebihan.

Aku tertegun melihat keakraban dari para penghuni bantaran kali ini. Mereka begitu akrab satu sama lain. Persaudaraan mereka sangat kental walaupun mereka berbeda suku dan agama.

Brakkkk. Tiba2 suara sangat besar terdengar mengagetkan orang2 di sekitar termasuk aku. Ternyata sebuah bangunan lagi hancur oleh buldoser. Pria2 berdasi dan sekumpulan polisi terlihat memperhatikan para pekerja dengan sesekali meneriakkan sesuatu memberi perintah. Ternyata peluh dan wajah lelah pun terpancar dari mereka. Perlahan aku coba mendekati seorang pria yang tadi pagi berpakaian rapi yang kini pakaiannya sudah lusuh oleh keringatnya.

“Selamat sore, Pak.” Pria itu terlonjak oleh sapaanku.
“Eh, selamat sore.” Jawabnya gugup menetralkan kekagetannya tadi.
“Waduh, maaf Pak kalo saya mengagetkan.”
“Oh, gak apa-apa, Mas. Saya memang lagi ngelamun tadi. Ada apa ya, Mas?”
“Saya fotografer dari Majalah Ibu Kota, mau ambil foto2 disini boleh, Pak?”
“Oh, boleh, boleh, silahkan saja, Mas”

Sambil mengambil beberapa foto, aku memperhatikan pria tadi. Dia masih melamun. Dan matanya seperti tidak fokus pada apa yang sedang dilakukannya sekarang.

Lalu tiba2. “Awas!” suara teriakan mengagetkanku dan refleks kutarik pria melamun di dekatku ini. Brakkk. Sebuah kayu terjatuh. Rupanya rumah semi permanent yang belum terbongkar itu sudah benar2 rapuh hingga goncangan sedikit saja membuatnya rubuh.

“Makasih, Mas, makasih” pria itu bergumam lemah menahan gemetarnya karena kepalanya nyaris tertimpa kayu.

“Sama2, Pak. Bapak ngelamun aja dari tadi, sampe ga merhatiin apa2. Hati2, Pak” Aku pun sedikit kesal karena dengan menyelamatkan pria itu kameraku terbanting.

“Maaf ya, Mas, gara2 saya kamera Mas jadi jatuh.”
“Oh, gak apa2, Pak.” Suara penuh penyesalan itu membuatku melupakan kekesalanku.
“Saya bener2 minta maaf, Mas. Saya memang salah. Dari tadi saya mikirin masalah pribadi saya. Ibu saya sekarang sakit, Mas. Gagal ginjal dan harus cuci darah seminggu dua kali.” Tiba2 dia bercerita dengan lancar seolah-olah kata2nya barusan sudah lama dia pendam dan ingin dia ceritakan.
“Oh, maaf Pak, saya turut prihatin. Mau minum, Pak?” Aku mencoba menenangkan pria disampingku yang sepertinya terlihat lelah luar biasa. Kupanggil penjual minuman dan mempersilahkan pria itu duduk sambil melepas lelahnya. Pria itu menawarkan rokoknya dan aku menerimanya dengans enang hati karena sejak tadi ternyata aku belum merokok sedikitpun.

“Dari kemarin saya belum pulang, Mas. Kerjaan ini banyak menyita waktu saya dan saya juga berharap mendapatkan uang lebih dari bos kalau saya mau lembur seperti ini.”
“Lho memangnya Bapak ga dapet uang lembur?”
“Yah, dapet sih, Cuma atas kebijaksanaan atasan saya langsung, Mas. Saya juga gak berharap banyak dari pemerintah dalam masa sulit ini. Utang IMF kebayar aja saya udah bersyukur banget, akhirnya, bisa juga kebayar. Tapi utang2 yang lain kan masih banyak.” Jelasnya panjang lebar.
“Jadi, Bapak ini gak pulang dari kemaren Cuma untuk menunggu uang tambahan yang tidak seberapa.” Jawabku lebih kepada menjawab pertanyaan hatiku yang miris mendengar jawaban pria disampingku ini.
“Ini juga masalah tanggung jawab, Mas. Banyak orang bilang pegawai negeri males2, kerjaannya cuma tanda tangan absensi, terus sarapan pagi sambil ngobrol, ngerokok dipojokan sambil baca koran, main game di computer atau browsing situs2 yang tidak ada hubungannya sama pekerjaan, dan yang lebih parah lagi, tidur. Memang sih yang seperti itu ada, tapi saya dan rekan2 saya tidak seperti itu. Tanggung jawab kami juga untuk melakukan pekerjaan ini, Mas. Orang2 ini akan sangat berbahaya jika terus tinggal disini, apalagi kalo musim hujan, kebanjiran deh.” Jawaban yang sama dengan jawaban Pak Teguh.
“Hmm.” Aku mendengarnya sambil menghirup dalam rokok di tanganku.
“Dan juga saya dan rekan2 dibayar oleh pemerintah, yang duitnya dari rakyat. Rakyat bayar pajak penghasilan untuk membayar operasional pemerintahan termasuk membayar pegawainya. Orang tua saya bukan pns, adik2 saya juga bukan, berarti mereka juga ikut andil terhadap pembayaran gaji saya yang ga seberapa. Anak2 saya sekolah di sekolah negeri dan saya harus membayar untuk buku dan lain sebagainya, otomatis saya juga ambil peran dalam pembayaran guru. Sebenarnya cuma muter2 aja sih ya, Mas. Bener2 dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.” Sambil tertawa kecil dengan jawabannya yang ngalor ngidul, pria itu menyulut rokoknya dan menghirupnya dalam. Aku pun jadi ikutan tersenyum.

Sebenarnya pria ini hanya butuh teman untuk ngobrol, mengeluarkan isi hatinya. Tanggung jawab dan bakti terhadap orang tua juga keluarganya sendiri membuatnya lelah. Tapi walaupun pria ini lelah, pendapatnya tentang pemerintahnya tadi benar2 tulus. Dia mengabdi kepada pemerintah dan rakyat yang sudah menghidupinya. Dia tidak marah atau sinis terhadap pemerintah.

Hari ini belum berakhir. Bukan saja aku mendapatkan liputan dan foto2 bagus, tapi aku sudah banyak mendapatkan pelajaran. Pelajaran dari orang2 ini. Mereka sangat positif memandang kehidupan, membuat mereka tidak akan cepat tua di belantara Jakarta, membuat mereka lebih tulus menjalani hidup yang memang sudah sulit.

Aku pun mengganti isi liputanku. Awalnya, sebelum aku datang ke tempat ini, aku sudah membayangkan isi liputanku akan penuh dengan adegan2 kerusuhan, caci maki terhadap kepolisian dan pemerintah, kekasaran terhadap penduduk gelap di bantaran kali dan di tambah dengan foto2 dramatis tentang penderitaan orang2 yang tergusur dari rumahnya. Tapi kini aku akan menggantinya dengan adegan2 kekeluargaan, harapan, masa depan dan sikap positif dari semua orang2 yang ambil bagian dalam penggusuran ini.

Hidup memang indah. Tuhan sudah bermurah hati memberikan hidup. Karena itu aku tidak ingin mengisinya lagi dengan sikap sinis. Aku sudah menemukan syukur dalam liputan pertamaku ini.

Post a Comment