Nyanyian Rindu 2

April 23, 2008 at 6:47 am (Cerpen) (, , , )

Jangan menangis, Papa. Jangan bersedih. Kujulurkan tanganku mengusap air mata di wajah lelah itu. Wajah yang sangat aku cintai. Wajah yang selalu menemaniku sepanjang hidupku. Hanya wajah itu yang kupunyai, karena wajah Mama hanya bisa kulihat melalui foto.

Kini wajah itu suram. Wajah itu kelabu menambah guratan2 usia. Aku sayang Papa. Tolong jangan menangis. Aku berjanji aku akan berusaha lebih keras untuk bicara, Pa. Hanya saja nyanyian itu kini semakin keras terdengar ditelingaku. Aku tidak ingin kehilangan nyanyian itu. Belum saatnya, Papa. Aku akan mencari tahu darimana asal nyanyian itu.

Sudah bulan ketiga aku bungkam. Aku juga tidak mengharapkannya. Tapi jika aku berusaha untuk bicara, nyanyian itu kembali menjadi samar dan ruangan itu serta cahaya terangnya akan hilang. Aku hanya ingin mengakhiri rasa penasaran ini saja.

***

Prang. Suara pecahan kaca. Seseorang membanting gelas atau sesuatu yang terbuat dari kaca. Aku berusaha menjangkau pintu dalam keterbatasanku menggerakkan kakiku yang menjadi kaku sejak jatuhnya aku dari pyramid. Lalu kudengar suara orang2 bertengkar. Siapakah mereka?

Aduh! Kakiku sakit sekali. aku harus menjatuhkan diriku sendiri untuk turun dari tempat tidurku, dan inilah akibatnya. Aku benar2 mengutuk kejatuhanku dari pyramid. Aku, Riana, yang selalu lincah meloncat kesana kemari, tapi kini tidak berdaya oleh kakunya kaki ini dan kelunya lidah ini. Bahkan akupun harus merelakan tangan kananku menjadi lumpuh.

Auch! Kepalaku, sakit sekali. Dan, nyanyian itu, begitu memekakkan telinga, tidak lembut seperti biasanya. Nyanyian itu begitu nyata.

Peluh memenuhi tubuhku. Aku menggeser tubuhku seperti suster ngesot untuk menuju tangga. Dan aku melihatnya. Aku melihat siapa yang memainkan nyanyian itu. Papa. Laki2 yang sangat kucintai itu memainkan piano dengan penuh kemarahan dan putus asa. Bagaimana Papa tahu akan nyanyian itu?

***

Aku begitu lelah karena berusaha menjangkau tangga. Papa sudah menggendongku kembali menuju kamarku. Ingin sekali aku bertanya bagaimana Papa tahu tentang nyanyian itu, tapi tenggorokanku kembali kering, lidahku kembali kelu. Sampai Papa menarik selimutku sampai ke daguku, aku tidak bisa mengatakan apa2.

Aku bisa merasakan kembali keberadaanku dalam ruangan berasap itu. “Riana…datanglah sayang” suara lembut itu mengayunku dalam alam mimpiku. Aku bisa melihat lagi cahaya terang itu. Dan akupun ikut mendendangkan nyanyian itu.

Tapi tiba2 mataku sanggup menembus pekatnya asap dalam ruangan itu. mampu menepis cahaya terang didepanku. Aku melihatnya. Melihat wanita yang sangat kurindukan sedang memainkan piano. Wanita yang sangat cantik dengan gaun putih dan corak bunga2 berwarna merah darah di sekelilingnya. Dia tersenyum melihatku.

“Riana sayang” Bibir itu menyapaku lembut. Lengan putihnya berusaha menjangkauku. Tapi kemudian wajahnya kecewa karena tidak bisa menjangkauku. Aku berusaha Mama. Aku berusaha. Pegang tangan aku, Ma, peluk aku Mama, aku kangen Mama.

Aaaaarrrggghhhhh. Tidak. Tidak. Tiba2 bunga2 berwarna merah darah itu seperti mengeluarkan darah sungguhan. Ekspresi Mama sangat kesakitan. Memohon pertolongan pada laki2 disampingnya yang memgang pisau berlumuran darah. Dan tubuh Mama sudah ambruk ke tanah dengan darah.

Laki2 itu menangis. Aku hanya diam tidak bisa berbuat apa2. Aku berusaha tidak melihat siapa laki2 yang menangisi tubuh Mama. Aku ketakutan. Aku kecewa, kecewa yang teramat dalam.

***

Kini aku ingat kenapa nyanyian itu begitu menggangguku. Aku terbangun dengan sakit yang menyiksa di kepalaku. Papa dan Bi Yun kulihat tergopoh-gopoh menanyai keadaanku. Aku baru sadar kalau aku berteriak. Aku baru sadar dari mimpiku. Mimpi menemukan asal nyanyian itu.

Aku benci pada Papa. Aku memandang Papa tajam dan aku tahu kalau pandangan itu memancarkan kemarahan. Tapi aku juga begitu mencintai Papa. Kenapa Pa? kenapa Papa melakukan ini padaku dan Mama?

Aku kini ingat akan nyanyian itu, nyanyian terakhir yang dinyanyikan Mama sebelum Papa menghunuskan pisaunya pada Mama. Sebelum Papa terbakar api cemburu ketika melihat Mama memainkan piano bersama laki2 tidak kukenal yang menggendongku.

Post a Comment