Nyanyian Rindu
Nyanyian itu lagi. Nada itu lagi. Kenapa nyanyian itu terus saja bergema di kepalaku? Aku nyaris gila karena mendengarnya. Tolong! Tolonglah aku. Jika memang ada malaikat penjaga di langit sana, aku mohon berikan keajaibanmu kepadaku agar menghilangkan nyanyian itu.
“Tahan napas dong, na, lo berat banget tau ga sih” Eva menyentakku dan kembali menyadarkanku dari nyanyian samar itu. Tatapan dari kesembilan anggota tim ku menyadarkanku dimana keberadaanku.
“Bahaya lo, na. Kalo elo jatoh tadi gimana?” sinis Dewi menegurku. Dan aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkannya. Aku adalah second base dalam tim cheerleader ini, dan aku tidak berkonsentrasi ketika kami membuat pyramid hingga menjadikan Eva merasakan beban yang lebih berat dari seharusnya ketika aku memanjat di atas punggungnya.
Nyanyian itu lagi. Dia bahkan kini menghantuiku. Dia terus mengikuti bahkan ketika aku menjadi raja atas kesadaran diriku. Dia terus datang. Terus menggangguku dengan suara indahnya. Terus menjalari persendianku hingga terasa getarannya. Apakah ini? Tolonglah, malaikat, tolonglah aku.
***
Tepuk tangan dan teriakan semangat menggema di seluruh stadion olah raga ini. Aku bisa merasakan adrenalin membuncah sejak dua tim basket mulai bertanding. Adrenalin juga memompa kami para tim pemandu sorak di ruang ganti. Sebentar lagi perempat babak pertama selesai. Jeda istirahat itu akan diisi oleh pertandingan cheerleader antar SMU se-Jakarta. Tim kami menempati penampilan kedua setelah tim dari SMU Tiara.
Reva, sang kapten cheers kami, mulai memimpin kami untuk meditasi. Seperti biasa sebelum penampilan, kami selalu bermeditasi untuk menenangkan pikiran kami setelah adrenalin memompa tadi.
Tapi suara lembut Reva yang membimbing kami meditasi membuat ku mengantuk. Ditambah lagi kami meditasi sambil duduk, tidak berdiri seperti biasanya. Lalu nyanyian itu membuaiku lagi. Nyanyian itu memenuhi rongga kepalaku lagi. Begitu indah, tapi juga begitu menyesakkan dada. Membuatku seperti melihat cahaya terang yang memaksaku menjangkaunya. Cahaya itu. Untuk pertama kalinya kulihat cahaya itu sejak nyanyian itu menggema di kepalaku. Cahaya yang sangat terang di ruangan yang berasap, entah oleh kabut atau asap rokok, tapi ruangan itu begitu berasap hingga tidak bisa kulihat apa2 di dalamnya. Tapi cahaya itu membimbingku menuju nyanyian itu.
“Riana…Riana…” sayup kudengar sesorang memanggil namaku. Kurasakan pedih di belakang kepalaku ketika kucoba membuka mataku untuk melihat siapa yang memanggilku. Baru kusadari ternyata aku pingsan dalam meditasi. Belakang kepalaku menghantam ujung kursi kayu yang reot dan dipermukaannya tersembul sedikit paku. Pantas saja kepalaku pedih.
***
“Na, lo dipanggil kepsek tuh” Tergesa Galang memberitahuku.
“Kenapa, Lang? Ko gw dipanggil sih?” Tapi Galang sudah terbang menuju ruang pencinta alamnya.
Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar dari Kepala Sekolahku. Beliau begitu marah dan sekaligus khawatir karena ternyata piala lomba fisika jatuh ke tangan SMU Rediva. SMU kami tertinggal ketika aku kembali pingsan dalam olimpiade fisika antar SMU itu.
Aku benar2 limbung sejak keluar dari ruang kepsek. Seminggu ini sudah ada dua orang yang membentakku sebelum mereka khawatir dan menatapku iba. Reva dan Mbak Elsi, pelatih cheers kami kecewa akibat kekalahan kami dalam pertandingan cheerleader antar SMU. Dan kini kepala sekolah dan seluruh jajaran guru juga merasakan hal yang sama.
Ini bukan salahku. Ini salah nyanyian itu. Salah ruangan berasap itu. Dan juga salah cahaya itu. Aku tidak bisa mencegahnya. Aku selalu merasa lelah jika melihat semua itu. Aku selalu merasa tertekan jika mendengar nyanyian itu. Jangan salahkan aku. Aku tidak bersalah.
***
Aku menjadi bisu. Akhirnya nyanyian itu menghantarkan kecelakaan tragis yang menjatuhkanku dari pyramid setinggi 4.5 meter. Kaki dan tanganku menjadi lumpuh dan lidahku kelu.
Entah apa yang mencegahku bicara. Aku hanya tidak ingin bersuara hingga bisa kutemukan ada apa dengan nyanyian itu. Papa sudah terlalu lelah menungguku bicara selama dua bulan ini. Tapi aku tetap bisu.
Aku juga ingin bicara, Papa. Aku ingin bercerita pada Papa akan nyanyian itu. Aku bahkan ingin mengajak Papa menuju ruangan berasap itu. Aku takut akan ruangan berasap itu, tapi aku rindu akan nyanyian itu. Asap dalam ruangan itu begitu pekat seperti mencegahku menuju asal nyanyian itu. Aku kini sedang berusaha mencapai cahaya itu agar aku bisa melihat dari mana asal mula nyanyian itu. Aku merasakan cinta juga, Pa. aku merasakan hangat. Inilah sebabnya nyanyian itu begitu indah. Tapi aku tidak bisa melihat siapa atau apa yang menyanyikan nada itu, Pa. Ruangan itu begitu berasap. Asal nyanyian itu juga terhalang oleh cahaya terang itu.
***
Bersambung